ekonomi

SAE Pujon dan Jalan Sunyi Koperasi di Negeri yang Melupakannya

Sabtu, 11 April 2026 | 10:18 WIB
Peternak sapi perah anggota Koperasi SAE Pujon. Foto: tangkapan layar

Realitasnya berjalan ke arah yang berbeda.

Ekonomi Indonesia hari ini lebih banyak ditopang oleh korporasi besar dan mekanisme pasar yang kian kompetitif. Koperasi sering kali tersisih, dianggap lamban, tidak adaptif, atau terlalu “tradisional” untuk menjawab tantangan zaman.

Baca Juga: Koperasi Raksasa Dunia Bukti Nyata Bukan Sekadar Usaha Kecil

Di titik inilah SAE Pujon menjadi menarik—bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia membuktikan bahwa koperasi bisa hidup, bahkan tumbuh, jika dikelola dengan disiplin, konsistensi, dan kepercayaan yang dijaga.

Kunci utamanya barangkali sederhana, tetapi tidak mudah, tata kelola. SAE tidak hanya mengumpulkan susu, tetapi juga membangun sistem—dari edukasi pakan, pengelolaan kualitas, hingga kemitraan dengan industri seperti Nestlé Indonesia yang sudah terjalin sejak 1975. 

Baca Juga: Alibata: CU Harus Laksanakan Dua Misi

Ada kesinambungan, ada standar, dan yang lebih penting, ada rasa memiliki dari anggotanya. Kepercayaan, yang di banyak koperasi lain runtuh, justru menjadi modal utama di sini.

Namun keberhasilan ini sekaligus menyimpan ironi. Jika koperasi memang “soko guru”, mengapa contoh seperti SAE terasa langka? Mengapa ia lebih sering disebut sebagai pengecualian daripada arus utama?

Barangkali masalahnya bukan pada konsep koperasi itu sendiri, melainkan pada cara negara—dan juga masyarakat—memperlakukan koperasi.

Terlalu sering koperasi dijadikan proyek, bukan gerakan. Dibentuk dari atas, bukan tumbuh dari bawah. Dikejar jumlahnya, bukan kualitasnya.

Baca Juga: Wamira, Harapan bagi Rakyat untuk Harga Bersahabat

Akibatnya, koperasi kehilangan ruhnya, yaitu kepercayaan.

SAE Pujon menunjukkan bahwa koperasi bukan sekadar badan usaha, melainkan kontrak sosial antar anggotanya.

Ia hidup dari disiplin bersama, transparansi, dan kesadaran bahwa keuntungan tidak selalu harus maksimal, tetapi harus adil.

Dan mungkin di situlah pelajaran terpentingnya.

Halaman:

Tags

Terkini