Selain bermanfaat bagi lingkungan, pemanenan air hujan juga memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat.
Sebagai ilustrasi, satu rumah dengan luas atap sekitar 100 meter persegi dapat menangkap sekitar 80–100 meter kubik air hujan per tahun, tergantung pada intensitas curah hujan di wilayah tersebut.
Baca Juga: Ironi Air: Dari Kelimpahan yang Menipu hingga Masa Depan yang Diperebutkan
Jika harga air dari perusahaan air minum berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per meter kubik, maka pemanfaatan air hujan dapat menghemat biaya rumah tangga hingga Rp400.000–Rp1.000.000 per tahun atau bahkan lebih.
Air hujan yang ditampung dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti mencuci, menyiram tanaman, membersihkan rumah, hingga kebutuhan sanitasi.
Masalah air juga berkaitan erat dengan isu sosial dan gender. Dalam banyak rumah tangga, perempuan sering menjadi pihak yang paling bertanggung jawab dalam pengelolaan air untuk kebutuhan keluarga, termasuk memasak, mencuci, dan menjaga kebersihan rumah.
Baca Juga: Rumah Duka RS Panti Rapih Yogyakarta: Menghadirkan Ketenteraman di Tengah Duka
Ketika air sulit diperoleh, beban kerja perempuan menjadi lebih berat. Mereka harus menghabiskan lebih banyak waktu dan tenaga untuk mendapatkan air atau mengatur penggunaan air yang terbatas.
Oleh karena itu, pengelolaan air yang baik dapat membantu mengurangi beban domestik perempuan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Hal ini sejalan dengan tema Hari Air Dunia 2026: Air dan Gender, yang menekankan pentingnya akses air yang adil dan berkelanjutan bagi semua orang.
Upaya menjaga keberlanjutan sumber air tidak hanya bergantung pada teknologi dan infrastruktur, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat. Gaya hidup yang menghargai air perlu ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain dengan:
menggunakan air secara bijaksana
memanen dan memanfaatkan air hujan
menjaga kebersihan sungai dan sumber air
menanam pohon dan menjaga ruang terbuka hijau