JOGJA.24JAMNEWS.COM - Pagi itu, segelas air tampak biasa saja—jernih, tak berbau, mengalir dari sumur yang sama selama puluhan tahun.
Ia direbus, dituangkan ke gelas, lalu diminum dengan keyakinan yang nyaris tak pernah dipertanyakan. Di banyak rumah di Yogyakarta, ritual ini berulang setiap hari: sederhana, tenang, dan terasa aman.
Namun, di balik kejernihan itu, ada sesuatu yang tak kasatmata—dan justru karena itu, luput dari kewaspadaan.
Baca Juga: Embarkasi Baru, Harapan Baru: 3.830 Jemaah Haji DIY Siap Menapaki Tanah Suci
Sepanjang tiga bulan pertama 2026, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat 2.534 kasus diare. Januari menyumbang 975 kasus, Februari 810, dan Maret 749. Angka yang mungkin terlihat sebagai fluktuasi biasa, tetapi sesungguhnya menyimpan pola yang konsisten, penyakit yang terus hadir, tanpa benar-benar pernah pergi.
Di baliknya, ada nama yang terdengar teknis, nyaris asing bagi keseharian warga: Escherichia coli. Bakteri ini ditemukan hampir di seluruh sampel air sumur yang diuji. Bahkan, Dinas Lingkungan Hidup menyebut 99 persen sumur di kota ini telah tercemar. Hampir semua.
Baca Juga: Normalisasi Sungai Anakan Kali Oyo Wujud Harapan Warga Hargomulyo
Sebuah angka yang sulit dianggap kebetulan.
Sumbernya bukan sesuatu yang jauh. Justru sangat dekat—terlalu dekat.
Septic tank yang berdempetan dengan sumur, kepadatan permukiman tanpa ruang untuk sanitasi yang layak, serta kebiasaan lama yang bertahan tanpa banyak koreksi.
Air tanah, yang dulu diyakini sebagai cadangan paling bersih, kini membawa jejak aktivitas manusia itu sendiri.
Upaya penanganan terus berjalan. Chlorine diffuser dipasang, kampanye kebersihan digencarkan, dan vaksin Rotavirus mulai diberikan sejak bayi.
Baca Juga: Penebaran Ribuan Benih Ikan Lokal Edukasi Konservasi Sungai Bedog
Sebagian warga beralih ke air PDAM, meski belum sepenuhnya percaya untuk mengonsumsinya. Di sisi lain, air sumur tetap digunakan—direbus, disaring, atau sekadar diterima sebagai bagian dari kebiasaan.
Di titik ini, persoalan menjadi lebih dari sekadar kesehatan. Ia menyentuh wilayah kepercayaan, kebiasaan, dan cara kita memaknai risiko.