JOGJA.24JAM.COM - Ada masa ketika sebuah kekuasaan tidak runtuh—tetapi perlahan kehilangan arah.
Di Yogyakarta, keadaan itu mulai terasa setelah pergantian demi pergantian yang terlalu cepat. Tahta tetap ada, tetapi kendali tidak lagi utuh.
Di bawah Sultan Hamengku Buwono IV yang masih sangat muda, keputusan tidak selalu lahir dari pusat kekuasaan. Ia mengalir melalui tangan-tangan lain—yang lebih berpengalaman, tetapi tidak selalu membawa arah yang sama.
Baca Juga: Gunungkidul Membangun Angka yang Jujur, Ujian Akurasi Data di Desa
Nama Danurejo, semakin sering terdengar dalam urusan pemerintahan. Bukan sekadar menjalankan, tetapi menentukan. Sementara itu, pengaruh Pakualam I, tetap kuat dalam struktur yang dibangun bersama kekuatan kolonial.
Di titik ini, kekuasaan tidak lagi terasa sebagai satu kesatuan.
Ia terpecah.Terbagi. Dan dalam banyak hal—tidak lagi jelas arahnya.
Namun perubahan paling terasa bukan hanya di lingkar atas. Di bawah, beban itu mulai nyata.
Baca Juga: Kota Jogja, Air yang Diam-Diam Mengkhianati
Pungutan datang lebih dari sekali dalam setahun. Kewajiban tidak lagi ringan. Apa yang dulu mungkin bisa ditanggung, kini mulai terasa menekan. Tetapi seperti banyak hal lain pada masa itu, semua berjalan tanpa banyak suara.
Tidak ada ledakan.Tidak ada penolakan terbuka. Hanya rasa yang perlahan berubah. Dan ketika rasa itu berubah, ingatan mulai bekerja. Bukan sebagai nostalgia.Tetapi sebagai pembanding.
Baca Juga: Program Pembinaan Wirausaha Muda untuk Mendorong Usaha Nyata dan Berkelanjutan di Yogyakarta
Tentang masa ketika kekuasaan masih terasa dekat.Tentang waktu ketika arah belum sepecah ini.
Dan tanpa perlu diumumkan, tanpa perlu disepakati, satu nama kembali hadir dalam ruang-ruang yang tidak terlihat.