JOGJA.24JAMNEWS.COM - Program Sekolah Rakyat yang digagas Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan pendekatan berbeda dalam sistem penerimaan siswa.
Baca Juga: HB II Sesudah Geger Sepoy, Takhta Didirikan di Atas Sunyi
Tidak seperti sekolah pada umumnya, program ini tidak membuka pendaftaran, melainkan menggunakan mekanisme penjangkauan langsung berbasis Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
“Tidak ada pembukaan pendaftaran, ingat semua harus paham ini. Data (calon siswa) dijangkau lewat desil 1 dan desil 2,” tegas Gus Ipul dalam pertemuan bersama kepala daerah di Jakarta.
Baca Juga: Bupati Gunungkidul Tegaskan Toleransi Lewat Pembangunan Gereja GPDI Balong
Ia menekankan bahwa proses ini melibatkan verifikasi lapangan oleh pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Badan Pusat Statistik (BPS), serta pemerintah daerah.
Pendekatan tersebut dirancang agar program benar-benar menyasar anak-anak dari keluarga prasejahtera. Setelah verifikasi, penetapan siswa harus melalui persetujuan orang tua dan kepala daerah sebelum disahkan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Baca Juga: Pemda DIY Terapkan WFH Rabu untuk Transformasi Budaya Kerja ASN
Lebih dari sekadar pendidikan, Sekolah Rakyat menjadi bagian strategi pengentasan kemiskinan terpadu. Anak-anak yang bersekolah akan diiringi dengan pemberdayaan keluarga, mulai dari perbaikan rumah hingga akses jaminan kesehatan.
“Jadi nanti anaknya lulus Sekolah Rakyat, orang tuanya naik kelas dan (mandiri) tidak terima bansos lagi,” ujarnya.
Program ini juga tidak menerapkan tes akademik. Seleksi dilakukan melalui tes kesehatan dan pemetaan bakat guna mengidentifikasi potensi siswa sejak dini. Fasilitas yang disediakan pun tergolong lengkap, mulai dari asrama, makan bergizi, hingga perangkat pembelajaran digital.
Baca Juga: Simposium Budaya Jawa Soroti Tata Ruang dan Filosofi Yogyakarta
Saat ini, pembangunan Sekolah Rakyat telah berlangsung di lebih dari 100 titik dan menargetkan sekitar 4 juta anak yang belum atau putus sekolah. Gus Ipul menegaskan hasil akhir program harus jelas. “Tidak boleh menganggur. Kalau menganggur, gagal Sekolah Rakyat,” katanya.
Dengan konsep menyeluruh ini, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi solusi nyata dalam memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.