JOGJA.24JAMNEWS.COM - Pengasingan bukan sekadar perpindahan tempat. Ia adalah pemisahan.
Setelah Geger Sepoy yang menegangkan itu, HB II tidak lagi berada dalam pusaran kekuasaan. Ia dibawa jauh, menyeberangi laut, menuju Penang, Malaysia. .
Di sana, ia bukan lagi raja. Tidak ada keraton.Tidak ada singgasana.Tidak ada hiruk-pikuk kekuasaan yang selama ini mengelilinginya. Yang ada justru sebaliknya, jarak.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Tanpa Pendaftaran Fokus Jangkau Anak Miskin Nasional
Jarak dari tanah yang pernah ia pimpin.Jarak dari orang-orang yang dulu mendengarnya.Dan yang paling dalam—jarak dari peristiwa yang terus berjalan tanpa dirinya.
Di titik ini, pengasingan mulai menunjukkan maknanya yang sebenarnya. Ia bukan hanya menjauhkan secara fisik.Tetapi juga mencoba memutus keterhubungan.
Seorang raja yang tidak berada di tanahnya sendiri, perlahan akan kehilangan tempat dalam percakapan. Keputusan-keputusan akan diambil tanpa melibatkan namanya. Waktu akan terus berjalan, sementara dirinya seperti ditinggalkan.
Baca Juga: Kartini vs Theodora: Ketika Ide Bertemu Kekuasaan
Dan mungkin, di situlah tujuan sesungguhnya. Bukan sekadar menghentikan perlawanan.Tetapi membuatnya tidak lagi relevan.
Namun sekali lagi, perjalanan HB II tidak pernah benar-benar mengikuti pola itu. Karena meskipun ia dijauhkan, satu hal tidak serta-merta ikut hilang: Ingatan.
Nama HB II mungkin tidak lagi berada di pusat kekuasaan. Tetapi di luar ruang resmi itu, ia masih hidup—dalam ingatan mereka yang pernah merasakan kepemimpinannya, dalam cerita yang tidak selalu tercatat, dan dalam bayangan tentang sesuatu yang pernah ada.
Baca Juga: Pemda DIY Terapkan WFH Rabu untuk Transformasi Budaya Kerja ASN
Di sinilah pengasingan itu menjadi tidak sepenuhnya berhasil.
Tubuhnya dipindahkan.Ruangnya dihapus. Tetapi jejaknya tetap tinggal. Dan mungkin, di tempat yang jauh itu, justru mulai terbentuk sesuatu yang berbeda: