JOGJA.24JAMNEWS.COM - Tidak semua penobatan berlangsung dengan gegap gempita.
Sebagian justru terjadi dalam sunyi—dan me⁸nyisakan rasa yang sulit dijelaskan.
Setelah Geger Sepoy, tahta Yogyakarta tidak kosong. Ia segera diisi. Sultan Hemengku Buana III naik Takhta untuk yang kedua kalinya, menggantikan ayahnya.
Namun ini bukan peralihan yang utuh.
Tidak ada suasana lega.
Tidak pula rasa kemenangan.
Baca Juga: Kartini vs Theodora: Ketika Ide Bertemu Kekuasaan
Yang tersisa justru bayangan peristiwa yang baru saja terjadi—keraton yang diserbu, kekuasaan yang dipaksa berubah, dan luka yang belum sempat tertutup.
Di saat yang sama, sosok yang sebelumnya memegang kendali, Sultan Hamengku Buana II, tidak lagi berada di dalam lingkar itu.
Ia langsung dijauhkan.
Dibuang ke Penang.
Di titik ini, suasana menjadi semakin ganjil.
Baca Juga: Bupati Gunungkidul Tegaskan Toleransi Lewat Pembangunan Gereja GPDI Balong
Kekuasaan baru berdiri—tetapi bayang-bayang yang lama belum benar-benar hilang. Di atas singgasana itu, HB III memulai pemerintahannya dalam keadaan yang tidak stabil.