JOGJA.24JAMNEWS.COM - auh di bawah permukaan laut, di perbatasan dua lempeng tektonik, tersimpan energi yang tak terlihat namun dahsyat.
Di zona subduksi—wilayah tempat lempeng samudra yang lebih padat menyusup ke bawah lempeng benua—Bumi bergerak perlahan, hanya beberapa sentimeter per tahun.
Gerakannya sunyi, nyaris tak terasa. Namun ketika jalur ini “terkunci”, ketenangan itu berubah menjadi ancaman.
Pada bagian tertentu, gesekan antar lempeng begitu kuat hingga keduanya saling mencengkeram.
Baca Juga: Code Bright di Bantaran Code Dari Limbah Tahu–Tempe Menjadi Cahaya Jalan dan Harapan Lingkungan
Zona terkunci ini dapat membentang ratusan kilometer. Sementara lempeng samudra terus menekan ke bawah, energi elastis menumpuk seperti pegas raksasa yang dipaksa meregang.
Tahun demi tahun, bahkan abad demi abad, tekanan bertambah tanpa terlihat tanda bahaya di permukaan.
Hingga suatu saat, batas kekuatan terlampaui.
Dalam hitungan detik, kuncian itu lepas. Lempeng yang tertahan melonjak, melepaskan energi yang setara ribuan bom.
Inilah gempa megathrust—jenis gempa paling kuat di Bumi. Getarannya merambat jauh, merobohkan bangunan, memicu longsor, dan meretakkan tanah. Namun bahaya belum berhenti.
Baca Juga: Riset Kelas Dunia, Ambisi di Teluk Ekas, Lombok
Jika patahan terjadi di dasar laut, dasar samudra dapat terangkat atau turun secara tiba-tiba.
Perubahan vertikal inilah yang mendorong massa air dalam jumlah besar, melahirkan gelombang tsunami yang melaju secepat pesawat jet.
Di laut lepas, gelombang itu nyaris tak terlihat. Tetapi saat mendekati pantai, ia meninggi dan menghantam daratan dengan daya rusak luar biasa.