nasional

Fahri Hamzah soal Saiful Mujani, Menjaga Batas Tipis Demokrasi

Selasa, 7 April 2026 | 00:26 WIB
Fahri Hamsyah; jangan beri ruang pada tindakan inkonstitusional. Foto: Ist

Sejarah Indonesia menunjukkan, demokrasi tidak runtuh hanya karena kritik yang keras. Ia justru melemah ketika ruang kritik dipersempit atas nama ketertiban. Di sinilah paradoks itu bekerja—ketika menjaga demokrasi bisa berarti membuka ruang seluas-luasnya, sekaligus menutup kemungkinan bagi kekacauan.

Baca Juga: Tiga Pahlawan Gugur, Negara Berjuang Pulangkan dalam Konflik Memanas

Mungkin, seperti yang diisyaratkan Fahri Hamzah, jawabannya memang terletak pada kesepakatan bersama: bahwa perbedaan tetap harus berjalan dalam koridor konstitusi. Namun, sejarah juga mengajarkan, konstitusi bukanlah benda mati—ia hidup dari tafsir, dan tafsir selalu punya kepentingan.

Di titik itu, demokrasi tidak lagi sekadar soal benar atau salah, melainkan soal siapa yang paling berhak menentukan arti dari “benar” itu sendiri.m

Dan ketika tafsir mulai dimonopoli, di situlah bahaya sesungguhnya muncul—bukan pada suara yang terlalu keras, melainkan pada ruang yang perlahan menjadi terlalu sunyi.

Halaman:

Tags

Terkini

Kartini vs Theodora: Ketika Ide Bertemu Kekuasaan

Selasa, 14 April 2026 | 10:47 WIB

Dorrr, Indonesia Punya Pabrik Mobil

Jumat, 10 April 2026 | 05:46 WIB

Kampus, Rumah, dan Janji yang Perlu Ditepati

Selasa, 7 April 2026 | 01:24 WIB

Seribu Rumah, Semangat Gotong Royong

Senin, 6 April 2026 | 23:52 WIB

Negara Hadir Jaga Anak Digital

Rabu, 1 April 2026 | 01:20 WIB

Langkah Sunyi di Tokyo

Senin, 30 Maret 2026 | 16:58 WIB

Semangat Taruna Indonesia di Tokyo

Senin, 30 Maret 2026 | 16:41 WIB