JOGJA.24JAMNEWS.COM - Pernyataan Prabowo Subianto tentang penyelamatan keuangan negara menghadirkan optimisme sekaligus ruang refleksi. Dalam acara resmi di Jakarta, Presiden menyampaikan capaian yang tidak kecil—baik dalam bentuk uang tunai maupun aset negara.
“Dengan demikian, total uang tunai yang berhasil kita selamatkan sampai hari ini adalah Rp31,3 triliun. Ini angka yang sangat besar,” ujarnya.
Baca Juga: Geger Sapehi ke Mahkamah Internasional, Menggugat Ingatan yang Dirampas
Angka itu bersifat likuid. Artinya, dana tersebut bisa langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan publik. Presiden pun menggambarkan potensi penggunaannya, terutama untuk sektor pendidikan yang selama ini menghadapi banyak keterbatasan.
“Tahun lalu kita baru berhasil memperbaiki 17.000 sekolah, berarti uang ini bisa dua kali lipat APBN,” tuturnya.
Lebih jauh, ia juga menyinggung kemungkinan dampaknya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Baca Juga: Unik! Komunitas Agus Gelar Syawalan, Semua Peserta Wajib Punya Unsur Nama “Agus”
“Bisa juga dibayangkan kalau membantu renovasi rumah untuk rakyat berpenghasilan rendah ini dapat memperbaiki 500.000 rumah lebih.”
Gambaran tersebut menghadirkan harapan—bahwa hasil penyelamatan keuangan negara bisa segera dirasakan oleh masyarakat luas. Namun, capaian itu tidak berhenti pada uang tunai.
Pemerintah juga menyampaikan keberhasilan penguasaan kembali aset negara berupa kawasan hutan dengan nilai sekitar Rp370 triliun.
Baca Juga: SAE Pujon dan Jalan Sunyi Koperasi di Negeri yang Melupakannya
“Satgas ini berhasil melakukan penguasaan kembali aset negara… sekitar Rp370 triliun… hampir 10 persen dari APBN,” jelas Presiden.
Di sinilah narasi menjadi lebih kompleks. Berbeda dengan Rp31,3 triliun yang dapat langsung digunakan, Rp370 triliun merupakan nilai aset—potensi kekayaan negara yang telah diamankan, tetapi belum berbentuk dana siap pakai.
Baca Juga: HB II Sesudah Penyerbuan: Yang Diambil Bukan Hanya Tahta