Di tingkat hulu, persoalan klasik masih membayangi, seperti kualitas pakan, produktivitas sapi, hingga regenerasi peternak. Data lama menunjukkan produksi per ekor sapi di Pujon masih berkisar 10–12 liter per hari, meski dengan intervensi pakan bisa didorong hingga 20–25 liter. Selisih ini bukan sekadar teknis, melainkan soal pengetahuan, akses, dan keberlanjutan.
Baca Juga: Bersiap Hadapi El Niño “Godzilla”: Sedia Payung Sadurunge Udan
Di tingkat hilir, tantangannya berbeda: investasi pengolahan, standar kualitas, hingga kemampuan membangun merek. Tanpa itu, koperasi akan terus menjadi “produsen setengah jadi” dalam rantai panjang industri susu.
Dan di titik ini, “hilirisasi” kehilangan maknanya sebagai strategi, lalu berubah menjadi sekadar retorika. Sebab yang dibutuhkan peternak bukan kata, melainkan keberpihakan yang konkret: akses pembiayaan yang masuk akal, teknologi pakan yang terjangkau, dan ruang pasar yang tidak sepenuhnya dikunci oleh industri besar.
Baca Juga: Haul ke-31 Nike Ardilla: Cinta Penggemar yang Tak Pernah Padam
Jika tidak, maka setiap kunjungan pejabat hanya akan menjadi ritual—datang, memuji, lalu pergi—sementara peternak tetap berdiri di tempat yang sama: memproduksi lebih banyak, tetapi tidak pernah benar-benar memiliki nilai dari apa yang mereka hasilkan.