JOGJA.24JAMNEWS.COM - Di tengah dunia yang gaduh oleh konflik, ada momen-momen kecil yang justru terasa lebih jernih.
Bukan dari ruang perundingan, bukan pula dari laporan resmi, melainkan dari catatan personal yang sederhana.
Baca Juga: Carmen K-pop dan Jari Hati dari Seoul, Diplomasi yang Berubah Wajah
Kali ini datang dari Agnez Mo—seorang musisi yang kebetulan berada di Dubai saat situasi kawasan belum sepenuhnya tenang.
"Saya ingin menyampaikan betapa saya menghargai cara kepemimpinan dan militer Dubai menjaga keselamatan semua orang; dan, yang lebih penting, memberi kami informasi secara transparan. Kepemimpinan seperti itu benar-benar penting," tulis Agnez di akun IG nya.
Alih-alih menyoroti ketegangan, Agnez memilih sudut yang berbeda. Ia bicara tentang kepemimpinan—tentang bagaimana otoritas setempat menjaga keamanan sekaligus menyampaikan informasi secara terbuka.
Baca Juga: Perdana Menteri Baru Nepal, Penyanyi Rap yang Pemberontak
Dalam situasi krisis, transparansi bukan sekadar prosedur, melainkan penopang rasa aman. Dan di titik itu, Dubai tampil bukan sebagai kota gemerlap yang biasa dikenal dunia, tetapi sebagai ruang yang mencoba tetap terkendali di tengah gejolak.
Namun catatan Agnez tidak berhenti pada soal stabilitas. Malam itu, ia justru menemukan makna lain—di meja berbuka puasa yang diselenggarakan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Dubai. Sebuah ruang yang jauh dari hiruk pikuk konflik, tetapi justru menjadi tempat bertemunya identitas, keyakinan, dan rasa kebangsaan.
Baca Juga: Diplomasi Hangat Teh Sore Perkuat Investasi Indonesia Korea Selatan
"Sementara itu, cara terbaik untuk menghabiskan malam adalah dengan menerima undangan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) untuk berbuka puasa bersama," katanya.
Ada sesuatu yang terasa hangat sekaligus reflektif dari pengakuannya: seorang Kristen yang tidak berpuasa, tetapi memilih hadir dalam tradisi berbuka. Bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai pernyataan sikap—bahwa toleransi bukan jargon, melainkan praktik sehari-hari.
Baca Juga: Paskah Tanpa Aksi: Iman yang Kehilangan Makna
"Meskipun saya seorang Kristen, dan secara teknis saya tidak berpuasa hari ini (selain puasa intermiten lol), saya percaya toleransi beragama adalah jantung kemanusiaan. Tanpanya, kita hanyalah tubuh tanpa jiwa," imbuhnya.