JOGJA.24JAMNEWS.COM - Kemenangan Balendra Shah—yang lebih akrab disapa Balen—menandai babak baru politik Nepal yang terasa tak lazim, bahkan sedikit “memberontak” terhadap pakem lama kekuasaan.
Dari panggung rap bawah tanah ke kursi perdana menteri, perjalanan Balen bukan sekadar loncatan karier, melainkan pergeseran cara publik memandang siapa yang layak memimpin.
Baca Juga: Tiga Pahlawan Gugur, Negara Berjuang Pulangkan dalam Konflik Memanas
Pelantikannya pada 27 Maret 2026 menjadi simbol dari sesuatu yang lebih dalam: kemarahan publik yang menemukan salurannya.
Demonstrasi besar pada September 2025 bukan hanya ledakan sesaat, tetapi akumulasi kejenuhan terhadap korupsi, nepotisme, dan politik yang terasa eksklusif bagi segelintir elite.
Balen hadir sebagai antitesis dari semua itu—bukan politisi karier, melainkan suara jalanan yang naik ke panggung negara.
Baca Juga: Salib di Atas Bumi yang Dieksploitasi: Gugatan Nurani dari Golgota hingga Yogyakarta
Dalam kampanyenya, Balen tidak membungkus pesan dengan retorika tinggi. Ia justru mempertahankan gaya lugas khas lirik rapnya, langsung, tajam, dan emosional. Janji memberantas korupsi, mereformasi peradilan, dan membuka jutaan lapangan kerja disampaikan lewat media sosial—bukan forum resmi.
Di situ, ia berbicara sebagai “salah satu dari mereka”, bukan sebagai penguasa yang berjarak.
Baca Juga: Dari Tokyo ke Seoul, Prabowo Bawa Pulang Harapan Besar
Daya tariknya memang berakar dari masa lalunya. Lagu-lagu seperti “Balidan” telah lama menjadi saluran kemarahan generasi muda yang merasa terpinggirkan.
Kritik terhadap ketimpangan sosial dan elite politik bukan hal baru bagi Balen; hanya medium dan panggungnya yang kini berubah. Ketika ia merilis “Jay Mahakaali” dengan nada optimisme, publik melihatnya bukan sebagai pencitraan, melainkan kelanjutan dari narasi yang sudah lama ia bangun.
Namun, label “pemberontak” yang melekat padanya juga membawa konsekuensi. Dalam masa jabatannya sebagai Wali Kota Kathmandu, Balen menunjukkan bahwa idealisme kerap berbenturan dengan realitas.
Baca Juga: WFH Jumat Ubah Wajah ASN Menuju Kinerja Berbasis Hasil