Kebijakan penertiban kota—termasuk pembongkaran bangunan ilegal—menuai kritik dari kelompok seperti Human Rights Watch.
Pendekatannya dianggap tegas, bahkan keras, terutama terhadap kelompok rentan seperti pedagang kaki lima.
Di sinilah paradoks itu muncul: pemberontak yang dulu melawan sistem, kini harus mengelola sistem yang sama. Apakah ia akan tetap menjadi suara rakyat, atau perlahan berubah menjadi bagian dari struktur yang ia kritik?
Baca Juga: Diplomasi Hangat Teh Sore Perkuat Investasi Indonesia Korea Selatan
Gaya komunikasinya yang menjauh dari media arus utama juga menyisakan tanda tanya. Strategi ini efektif membangun kedekatan emosional saat kampanye, tetapi pemerintahan menuntut transparansi yang lebih luas dan dialog yang lebih terbuka. Tanpa itu, “kedekatan” bisa berubah menjadi eksklusivitas baru.
Kemenangan telaknya atas tokoh mapan seperti KP Sharma Oli menunjukkan bahwa publik Nepal siap mengambil risiko demi perubahan. Mereka tidak hanya memilih pemimpin baru, tetapi juga cara baru dalam.
Namun sejarah sering mengingatkan, menjadi pemberontak jauh lebih mudah daripada menjadi pengelola kekuasaan. Yang pertama digerakkan oleh energi dan keberanian, yang kedua menuntut kompromi dan ketahanan.
Kini, Nepal berada di titik krusial. Balen telah membawa semangat perlawanan ke pusat kekuasaan. Tantangannya adalah menjaga agar semangat itu tidak larut dalam rutinitas birokrasi—atau lebih buruk, tenggelam dalam praktik yang dulu ia lawan.