• Sabtu, 18 April 2026

Di Balik 90 Menit Terakhir: China, Pakistan, dan Senyap yang Menghentikan Perang

Photo Author
Agung Suprihanto, Jogja 24 Jam
- Kamis, 9 April 2026 | 15:06 WIB
Danau Chitgar. Iran. Foto: wikipedia
Danau Chitgar. Iran. Foto: wikipedia

 

JOGJA.24JAMNEWS.COM - Gencatan senjata itu datang nyaris tanpa aba-aba. Hanya sekitar 90 menit sebelum tenggat yang dipatok Donald Trump untuk melanjutkan eskalasi militer, Washington dan Teheran tiba-tiba sepakat menahan diri. Dunia yang sempat menahan napas mendadak kembali berdetak—meski dengan irama yang belum sepenuhnya tenang.

Baca Juga: Bersiap Hadapi El Niño “Godzilla”: Sedia Payung Sadurunge Udan

Dalam narasi resmi, Pakistan tampil sebagai mediator utama. Islamabad aktif menyusun proposal, menjembatani komunikasi, hingga menawarkan diri sebagai tuan rumah perundingan lanjutan. 

Peran ini konkret dan terlihat jelas: Pakistan menjadi jalur teknis yang memungkinkan dua pihak yang saling curiga tetap bisa berbicara.

Namun diplomasi jarang sesederhana itu.

Di balik layar, China memainkan peran yang lebih sunyi, tetapi justru menentukan. Sejak awal ketegangan, Beijing konsisten mendorong de-eskalasi. 

Baca Juga: Syawalan Gunungkidul: Pesan Sultan Menjaga Akal di Era Digital

Bersama Pakistan, mereka mengajukan inisiatif lima poin, termasuk pembukaan kembali jalur vital Selat Hormuz—urat nadi distribusi energi global.

Di titik ini, kepentingan menjadi penjelas paling jujur. Bagi China, stabilitas Hormuz bukan sekadar isu geopolitik, melainkan kebutuhan ekonomi langsung. Gangguan di jalur itu berarti tekanan bagi industri dalam negeri. Maka dorongan Beijing terhadap Iran bukan sekadar ajakan damai, tetapi bagian dari kalkulasi strategis.

Baca Juga: Atap Ramah Lingkungan dari Limbah Plastik, Harapan Baru bagi Hunian Sehat Wartawan

Sejumlah analis menilai, tanpa tekanan halus dari China, kecil kemungkinan Iran akan melunak dalam waktu sesingkat itu. Terlebih dalam situasi konflik yang masih memanas. Dalam fase “90 menit terakhir” yang kini menjadi titik krusial, Beijing disebut melakukan intervensi diplomatik intensif untuk memastikan kesepakatan tercapai.

Baca Juga: Sesudah Viral, Bantul Menghitung Ulang Harga dan Batas

Di sinilah peran kedua negara terlihat kontras. Pakistan membuka ruang, mengatur komunikasi, dan menjaga proses tetap berjalan. 

Sementara China memastikan arah akhirnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Agung Suprihanto

Tags

Terkini

Prabowo, Menjahit Masa Depan dari Seoul

Jumat, 3 April 2026 | 08:27 WIB

Jejak Pastor di Sabuk Asteroid

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:15 WIB

Seruan Damai dari Balkon Vatikan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 00:17 WIB

Alarm Gempa dari Ruang Kuliah Amerika

Minggu, 1 Maret 2026 | 21:41 WIB

Pimpinan Pecah Kongsi dan Janji yang Kembali Ditagih

Senin, 23 Februari 2026 | 22:56 WIB

Eksodus ke Australia dan Cermin Ekonomi Selandia Baru

Kamis, 12 Februari 2026 | 12:04 WIB
X