JOGJA.24JAMNEWS.COM - Gencatan senjata itu datang nyaris tanpa aba-aba. Hanya sekitar 90 menit sebelum tenggat yang dipatok Donald Trump untuk melanjutkan eskalasi militer, Washington dan Teheran tiba-tiba sepakat menahan diri. Dunia yang sempat menahan napas mendadak kembali berdetak—meski dengan irama yang belum sepenuhnya tenang.
Baca Juga: Bersiap Hadapi El Niño “Godzilla”: Sedia Payung Sadurunge Udan
Dalam narasi resmi, Pakistan tampil sebagai mediator utama. Islamabad aktif menyusun proposal, menjembatani komunikasi, hingga menawarkan diri sebagai tuan rumah perundingan lanjutan.
Peran ini konkret dan terlihat jelas: Pakistan menjadi jalur teknis yang memungkinkan dua pihak yang saling curiga tetap bisa berbicara.
Namun diplomasi jarang sesederhana itu.
Di balik layar, China memainkan peran yang lebih sunyi, tetapi justru menentukan. Sejak awal ketegangan, Beijing konsisten mendorong de-eskalasi.
Baca Juga: Syawalan Gunungkidul: Pesan Sultan Menjaga Akal di Era Digital
Bersama Pakistan, mereka mengajukan inisiatif lima poin, termasuk pembukaan kembali jalur vital Selat Hormuz—urat nadi distribusi energi global.
Di titik ini, kepentingan menjadi penjelas paling jujur. Bagi China, stabilitas Hormuz bukan sekadar isu geopolitik, melainkan kebutuhan ekonomi langsung. Gangguan di jalur itu berarti tekanan bagi industri dalam negeri. Maka dorongan Beijing terhadap Iran bukan sekadar ajakan damai, tetapi bagian dari kalkulasi strategis.
Baca Juga: Atap Ramah Lingkungan dari Limbah Plastik, Harapan Baru bagi Hunian Sehat Wartawan
Sejumlah analis menilai, tanpa tekanan halus dari China, kecil kemungkinan Iran akan melunak dalam waktu sesingkat itu. Terlebih dalam situasi konflik yang masih memanas. Dalam fase “90 menit terakhir” yang kini menjadi titik krusial, Beijing disebut melakukan intervensi diplomatik intensif untuk memastikan kesepakatan tercapai.
Baca Juga: Sesudah Viral, Bantul Menghitung Ulang Harga dan Batas
Di sinilah peran kedua negara terlihat kontras. Pakistan membuka ruang, mengatur komunikasi, dan menjaga proses tetap berjalan.
Sementara China memastikan arah akhirnya.