• Sabtu, 18 April 2026

Seruan Damai dari Balkon Vatikan

Photo Author
GS Purwanto, Jogja 24 Jam
- Sabtu, 14 Maret 2026 | 00:17 WIB
Paus Leo XIV berbicara tentang “spiral kekerasan” dan pentingnya diplomasi untuk mencegah tragedi yang lebih luas. Foto: Vatican News.
Paus Leo XIV berbicara tentang “spiral kekerasan” dan pentingnya diplomasi untuk mencegah tragedi yang lebih luas. Foto: Vatican News.

JOGJA.24JAMNEWS.COM - Di tengah doa Angelus di Lapangan Santo Petrus, suara Paus terdengar lembut, hampir seperti bisikan yang mencoba menenangkan dunia yang semakin bising oleh deru senjata.

Dari balkon Vatikan itu, Paus Leo XIV berbicara tentang “spiral kekerasan” dan pentingnya diplomasi untuk mencegah tragedi yang lebih luas.

Baca Juga: Ambisi Besar di Balik Ulang Tahun Pertama Danantara

Namun di saat yang sama, perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran justru terus bergerak tanpa jeda—seolah seruan moral dari pusat Katolik dunia itu hanya menjadi gema yang jauh.

Konflik ini menempatkan Leo XIV pada posisi yang tidak sederhana. Ia adalah paus pertama dari Amerika Serikat yang harus merespons perang yang secara langsung melibatkan Washington dan sekutu utamanya di Timur Tengah.

Baca Juga: Kaesang ke KH. Yasin Nawawi Parpol Kok Perjalanan Spiritual?

Di sisi lain, lawan yang dihadapi adalah Iran, sebuah negara besar di dunia Muslim dengan dinamika politik dan keagamaan yang kompleks.

Menurut analisis harian Jerman Frankfurter Allgemeine Zeitung, situasi ini menciptakan tantangan khusus bagi paus yang juga dibentuk oleh tradisi teologis Barat, termasuk gagasan klasik tentang just war atau “perang yang adil” yang berakar pada pemikiran Santo Agustinus.

Tradisi itu tidak secara mutlak menolak perang, tetapi mengajukan syarat-syarat moral yang ketat tentang kapan kekerasan dianggap sah.

Baca Juga: Pedoman Baru Pemanfaatan AI di Dunia Pendidikan

Barangkali karena itulah Leo XIV memilih jalan yang sangat berhati-hati. Ia tidak mengkritik secara langsung operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Pernyataannya lebih berupa seruan universal tentang perdamaian, persaudaraan antarbangsa, dan pentingnya diplomasi.

Namun kehati-hatian itu juga memperlihatkan batas. Dalam konflik yang bergerak cepat dan ditentukan oleh kalkulasi kekuatan militer, suara Vatikan tampak semakin sulit mempengaruhi arah peristiwa.

Situasi ini mengingatkan pada perang Rusia-Ukraina, ketika seruan moral dari Tahta Suci juga tidak banyak mengubah jalannya konflik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: GS Purwanto

Tags

Terkini

Prabowo, Menjahit Masa Depan dari Seoul

Jumat, 3 April 2026 | 08:27 WIB

Jejak Pastor di Sabuk Asteroid

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:15 WIB

Seruan Damai dari Balkon Vatikan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 00:17 WIB

Alarm Gempa dari Ruang Kuliah Amerika

Minggu, 1 Maret 2026 | 21:41 WIB

Pimpinan Pecah Kongsi dan Janji yang Kembali Ditagih

Senin, 23 Februari 2026 | 22:56 WIB

Eksodus ke Australia dan Cermin Ekonomi Selandia Baru

Kamis, 12 Februari 2026 | 12:04 WIB
X