• Sabtu, 18 April 2026

Kaesang ke KH. Yasin Nawawi Parpol Kok Perjalanan Spiritual?

Photo Author
Agung Suprihanto, Jogja 24 Jam
- Jumat, 13 Maret 2026 | 09:40 WIB
Di hadapan pimpinan pesantren, KH. Yasin Nawawi, serta para santri, Kaesang meminta doa restu agar perjalanan politik PSI tetap lurus. Foto tangkapan layar
Di hadapan pimpinan pesantren, KH. Yasin Nawawi, serta para santri, Kaesang meminta doa restu agar perjalanan politik PSI tetap lurus. Foto tangkapan layar

JOGJA.24JAMNEWS.COM - Ramadan sering menjadi panggung yang berbeda bagi para politisi.

Bahasa yang digunakan berubah, gestur menjadi lebih lembut, dan agenda politik kerap dibungkus dalam nuansa religius.

Itulah yang tampak ketika Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep bersama jajaran partainya berkunjung ke Pondok Pesantren An-Nur di Bantul, Yogyakarta, Rabu (11/3/2026) malam.

Baca Juga: Pedoman Baru Pemanfaatan AI di Dunia Pendidikan

Di hadapan pimpinan pesantren, KH. Yasin Nawawi, serta para santri, Kaesang menyampaikan maksud kedatangannya: meminta doa restu agar perjalanan politik PSI tetap lurus.

Ia berharap para kiai memberi nasihat bila suatu saat langkah partainya dianggap menyimpang.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menarik. Politik yang selama ini dikenal keras dan penuh manuver tiba-tiba digambarkan sebagai jalan yang harus dijaga kelurusannya, hampir seperti jalan spiritual.

Kaesang juga meminta doa untuk seluruh kader PSI yang sedang berjuang bersama partainya. Doa, dalam konteks itu, diposisikan sebagai bekal moral bagi mereka yang bergelut di dunia politik—sebuah dunia yang kerap dianggap jauh dari kesan asketis.

Baca Juga: Ramadan di Jejak Dakwah Para Wali

Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali bahkan menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukanlah konsolidasi politik. Ia menyebutnya sebagai perjalanan spiritual.

Pernyataan itu memancing pertanyaan yang wajar: sejak kapan partai politik melakukan perjalanan spiritual?

Pertanyaan itu bukan sinis, melainkan reflektif. Dalam praktik politik Indonesia, kunjungan ke pesantren atau tokoh agama bukan hal baru.

Sejak lama para politisi menyadari bahwa ruang religius memiliki daya legitimasi yang kuat di mata publik. Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan juga pusat otoritas moral.

Karena itu, silaturahmi politik ke pesantren sering dipahami sebagai bagian dari komunikasi sosial—atau, dalam bahasa yang lebih jujur, komunikasi politik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Agung Suprihanto

Tags

Terkini

Kartini vs Theodora: Ketika Ide Bertemu Kekuasaan

Selasa, 14 April 2026 | 10:47 WIB

Dorrr, Indonesia Punya Pabrik Mobil

Jumat, 10 April 2026 | 05:46 WIB

Kampus, Rumah, dan Janji yang Perlu Ditepati

Selasa, 7 April 2026 | 01:24 WIB

Seribu Rumah, Semangat Gotong Royong

Senin, 6 April 2026 | 23:52 WIB

Negara Hadir Jaga Anak Digital

Rabu, 1 April 2026 | 01:20 WIB

Langkah Sunyi di Tokyo

Senin, 30 Maret 2026 | 16:58 WIB

Semangat Taruna Indonesia di Tokyo

Senin, 30 Maret 2026 | 16:41 WIB
X