JOGJA.24JAMNEWS.COM - Ramadan sering menjadi panggung yang berbeda bagi para politisi.
Bahasa yang digunakan berubah, gestur menjadi lebih lembut, dan agenda politik kerap dibungkus dalam nuansa religius.
Itulah yang tampak ketika Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep bersama jajaran partainya berkunjung ke Pondok Pesantren An-Nur di Bantul, Yogyakarta, Rabu (11/3/2026) malam.
Baca Juga: Pedoman Baru Pemanfaatan AI di Dunia Pendidikan
Di hadapan pimpinan pesantren, KH. Yasin Nawawi, serta para santri, Kaesang menyampaikan maksud kedatangannya: meminta doa restu agar perjalanan politik PSI tetap lurus.
Ia berharap para kiai memberi nasihat bila suatu saat langkah partainya dianggap menyimpang.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menarik. Politik yang selama ini dikenal keras dan penuh manuver tiba-tiba digambarkan sebagai jalan yang harus dijaga kelurusannya, hampir seperti jalan spiritual.
Kaesang juga meminta doa untuk seluruh kader PSI yang sedang berjuang bersama partainya. Doa, dalam konteks itu, diposisikan sebagai bekal moral bagi mereka yang bergelut di dunia politik—sebuah dunia yang kerap dianggap jauh dari kesan asketis.
Baca Juga: Ramadan di Jejak Dakwah Para Wali
Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali bahkan menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukanlah konsolidasi politik. Ia menyebutnya sebagai perjalanan spiritual.
Pernyataan itu memancing pertanyaan yang wajar: sejak kapan partai politik melakukan perjalanan spiritual?
Pertanyaan itu bukan sinis, melainkan reflektif. Dalam praktik politik Indonesia, kunjungan ke pesantren atau tokoh agama bukan hal baru.
Sejak lama para politisi menyadari bahwa ruang religius memiliki daya legitimasi yang kuat di mata publik. Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan juga pusat otoritas moral.
Karena itu, silaturahmi politik ke pesantren sering dipahami sebagai bagian dari komunikasi sosial—atau, dalam bahasa yang lebih jujur, komunikasi politik.