JOGJA.24JAMNEWS.COM - Di Masjid Agung Demak, Ramadan sering terasa lebih dari sekadar bulan ibadah. Ia seperti ruang waktu yang mempertemukan masa kini dengan masa ketika Islam pertama kali berakar kuat di tanah Jawa.
Orang datang membawa doa-doa pribadi, dan begitu memasuki gerbannya, ada perasaan lain yang ikut hadir—seolah sedang berjalan di jejak dakwah yang pernah digelar para wali.
Baca Juga: Ramadan yang Menyatukan di Syuhada
Masjid ini bukan hanya bangunan tua yang bertahan dari abad ke abad. Ia adalah saksi dari sebuah gerakan besar yang pernah mengubah wajah masyarakat Jawa.
Raden Patah dan para ulama yang dikenal sebagai Wali Songo seakan hadir dan selalu disebut ketika orang berbicara tentang Demak.
Dari tempat inilah dakwah pernah bergerak—bukan dengan paksaan, melainkan dengan kebijaksanaan, kesabaran, dan pendekatan budaya.
Ramadan membuat kesadaran sejarah itu terasa lebih kuat. Ketika saf-saf salat terisi hingga ke serambi, ketika ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan dalam tadarus malam, sulit menolak bayangan bahwa di tempat yang sama, berabad lalu, para wali pernah berdiri memimpin umat yang baru belajar mengenal Islam.
Baca Juga: Demak, di Rumah Para Wali yang Tak Pernah Sepi
Barangkali itulah yang sering disebut orang sebagai “energi” Demak. Bukan energi yang mistis, melainkan energi sejarah—rasa hormat pada perjuangan dakwah yang pernah terjadi.
Ia terasa dalam kesederhanaan masjid, dalam tiang-tiang kayu yang tetap dipertahankan, dalam cara orang-orang datang dengan sikap yang lebih tenang.
Menikmati Ramadan di Demak bukan hanya tentang berbuka atau salat berjemaah. Ia juga tentang merenungkan bagaimana agama ini pernah ditanam dengan begitu sabar.
Para wali tak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga membangun peradaban: mengajarkan etika, perdagangan yang jujur, seni, hingga cara hidup bermasyarakat.
Karena itu, ketika seseorang duduk di serambi masjid ini pada malam Ramadan—mendengar lantunan ayat atau sekadar menunggu waktu salat—ia seperti diajak bertanya pada dirinya sendiri: apakah ruh dakwah itu masih hidup di dalam diri kita?