• Sabtu, 18 April 2026

Ramadan di Jejak Dakwah Para Wali

Photo Author
Agung Suprihanto, Jogja 24 Jam
- Kamis, 12 Maret 2026 | 09:59 WIB
Masjid Agung Demak, gambar diambil tahun 1920. Foto: Istimewa.
Masjid Agung Demak, gambar diambil tahun 1920. Foto: Istimewa.

JOGJA.24JAMNEWS.COM - Di Masjid Agung Demak, Ramadan sering terasa lebih dari sekadar bulan ibadah. Ia seperti ruang waktu yang mempertemukan masa kini dengan masa ketika Islam pertama kali berakar kuat di tanah Jawa.

Orang datang membawa doa-doa pribadi, dan begitu memasuki gerbannya, ada perasaan lain yang ikut hadir—seolah sedang berjalan di jejak dakwah yang pernah digelar para wali.

Baca Juga: Ramadan yang Menyatukan di Syuhada

Masjid ini bukan hanya bangunan tua yang bertahan dari abad ke abad. Ia adalah saksi dari sebuah gerakan besar yang pernah mengubah wajah masyarakat Jawa.

Raden Patah dan para ulama yang dikenal sebagai Wali Songo seakan hadir dan selalu disebut ketika orang berbicara tentang Demak.

Dari tempat inilah dakwah pernah bergerak—bukan dengan paksaan, melainkan dengan kebijaksanaan, kesabaran, dan pendekatan budaya.

Ramadan membuat kesadaran sejarah itu terasa lebih kuat. Ketika saf-saf salat terisi hingga ke serambi, ketika ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan dalam tadarus malam, sulit menolak bayangan bahwa di tempat yang sama, berabad lalu, para wali pernah berdiri memimpin umat yang baru belajar mengenal Islam.

Baca Juga: Demak, di Rumah Para Wali yang Tak Pernah Sepi

Barangkali itulah yang sering disebut orang sebagai “energi” Demak. Bukan energi yang mistis, melainkan energi sejarah—rasa hormat pada perjuangan dakwah yang pernah terjadi.

Ia terasa dalam kesederhanaan masjid, dalam tiang-tiang kayu yang tetap dipertahankan, dalam cara orang-orang datang dengan sikap yang lebih tenang.

Menikmati Ramadan di Demak bukan hanya tentang berbuka atau salat berjemaah. Ia juga tentang merenungkan bagaimana agama ini pernah ditanam dengan begitu sabar.

Para wali tak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga membangun peradaban: mengajarkan etika, perdagangan yang jujur, seni, hingga cara hidup bermasyarakat.

Menara Masjid Demak. Foto: Istimewa.
Menara Masjid Demak. Foto: Istimewa.

Karena itu, ketika seseorang duduk di serambi masjid ini pada malam Ramadan—mendengar lantunan ayat atau sekadar menunggu waktu salat—ia seperti diajak bertanya pada dirinya sendiri: apakah ruh dakwah itu masih hidup di dalam diri kita?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Agung Suprihanto

Tags

Terkini

Kartini vs Theodora: Ketika Ide Bertemu Kekuasaan

Selasa, 14 April 2026 | 10:47 WIB

Dorrr, Indonesia Punya Pabrik Mobil

Jumat, 10 April 2026 | 05:46 WIB

Kampus, Rumah, dan Janji yang Perlu Ditepati

Selasa, 7 April 2026 | 01:24 WIB

Seribu Rumah, Semangat Gotong Royong

Senin, 6 April 2026 | 23:52 WIB

Negara Hadir Jaga Anak Digital

Rabu, 1 April 2026 | 01:20 WIB

Langkah Sunyi di Tokyo

Senin, 30 Maret 2026 | 16:58 WIB

Semangat Taruna Indonesia di Tokyo

Senin, 30 Maret 2026 | 16:41 WIB
X