JOGJA.24JAMNEWS.COM - Ada rumah yang tak pernah benar-benar kosong. Di Demak, rumah itu telah berdiri sejak berabad silam—dan orang-orang terus kembali kepadanya.
Di Masjid Agung Demak, yang kerap disebut rumah para wali, Ramadan terasa seperti musim mudik batin.
Orang datang sebagai peziarah, musafir, santri, atau sekadar pencari tenang. Namun begitu melangkah ke pelatarannya, semua seperti pulang.
Baca Juga: Buka Puasa Kaum Dhuafa Bersama Komunitas Sega Mubeng
Sejak sore, arus itu mulai tampak. Rombongan turun dari bus, keluarga berjalan beriringan, sebagian menuju kompleks makam, sebagian memilih duduk di serambi.
Nama Raden Patah dan kisah Wali Songo hidup dalam ingatan mereka. Sejarah di sini bukan cerita jauh, melainkan suasana yang bisa dirasakan.
Baca Juga: Sahur Bersama Ibu Shinta: Memaknai Perubahan
Menjelang magrib, pengurus menyiapkan hidangan berbuka—sekitar seribu porsi nasi yang menunya berganti setiap hari.
Para musafir, jamaah pengajian, warga sekitar, semua duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi kehormatan. Rumah ini menerima siapa pun yang datang dengan lapar dan doa.
Baca Juga: Menikmati Sunyi di Masjid Tertua Mataram
Yang membuatnya istimewa bukan hanya jumlahnya, melainkan wajah-wajah yang hadir. Di satu sudut, sekelompok santri duduk melingkar bersama kiai mereka yang tengah singgah. Pemandangan seperti itu hampir menjadi tradisi.
Masjid ini seperti titik temu para ulama yang sedang dalam perjalanan. Di sela menunggu azan, sering terdengar nasihat singkat—tentang menjaga adab, tentang merawat ilmu, tentang istiqamah yang tak perlu gaduh.
Begitu azan berkumandang, riuh pelataran seketika reda. Doa diangkat bersama. Saf-saf terisi cepat di bawah atap kayu tua yang telah menyaksikan ratusan Ramadan.