• Sabtu, 18 April 2026

Retak Sunyi di Poros Lama, Bara Baru di Perang Teluk

Photo Author
Agung Suprihanto, Jogja 24 Jam
- Senin, 23 Maret 2026 | 21:47 WIB
Tulsi Gabbard, Direktur Int3lijen Nasional AS. Foto: IG @tulsigabbard
Tulsi Gabbard, Direktur Int3lijen Nasional AS. Foto: IG @tulsigabbard

JOGJA.24JAMNEWS.COM - Retakan itu tak terdengar keras, tapi terasa. Di tengah bara konflik Timur Tengah yang kembali menyala, hubungan antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu tampak mulai menyisakan jeda—sebuah jarak yang dulu nyaris tak terlihat.

Ketika Trump menyebut telah meminta Israel untuk menahan diri dari menyerang fasilitas energi Iran, publik seolah diajak percaya bahwa kendali masih berada di tangan Washington.

Baca Juga: Hari Air Sedunia: Air Melimpah, Tapi Krisis?

Namun serangan itu tetap terjadi. Di titik ini, yang retak bukan sekadar komunikasi, melainkan asumsi lama tentang soliditas aliansi.

Selama bertahun-tahun, poros Amerika Serikat–Israel dipersepsikan sebagai satu suara dalam menghadapi Iran. Kini, suara itu terdengar sumbang.

Pengakuan Tulsi Gabbard, Dirwktur Intelijen Nasional AS,  tentang perbedaan fokus mempertegas pergeseran itu: Israel ingin memukul kepemimpinan Iran, sementara Amerika memilih melumpuhkan kapasitas militernya. Dua strategi, satu tujuan—namun dengan jalan yang tak lagi sepenuhnya seiring.

Baca Juga: Ketika AI Berbalik Menjadi Algojo, Memburu Jejak Judol... Hmm....Bangga Indonesia.

Di sinilah konflik mulai menemukan wajah barunya. Ia tak lagi hitam-putih, tak lagi soal kawan dan lawan semata. Ketika Iran membalas dengan menyerang fasilitas energi di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, lingkar konflik melebar, menyeret kawasan Teluk ke dalam pusaran yang sulit dikendalikan.

Energi menjadi bahasa baru dalam konflik ini. Ladang gas, kilang minyak, dan jalur distribusi bukan lagi sekadar objek ekonomi, melainkan simbol tekanan dan pesan politik.

Serangan ke Pars Selatan, misalnya, bukan hanya soal Iran, tetapi tentang bagaimana dunia diingatkan bahwa stabilitas energi global dapat goyah oleh satu keputusan militer.

Trump, di sisi lain, tampak mencoba menjaga jarak—atau setidaknya citra jarak. Pernyataannya yang menegaskan ketidaktahuan atas serangan Israel justru menimbulkan pertanyaan baru: apakah ini bentuk kendali yang melemah, atau sekadar strategi untuk meredam eskalasi?

Baca Juga: Ironi Air: Dari Kelimpahan yang Menipu hingga Masa Depan yang Diperebutkan

Yang jelas, konflik ini sedang bergerak melampaui batas-batas lamanya. Ia tidak lagi hanya tentang siapa menyerang siapa, tetapi tentang bagaimana sekutu mulai memiliki agenda sendiri, bagaimana kawasan terseret tanpa pilihan, dan bagaimana dunia dipaksa bersiap menghadapi konsekuensinya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Agung Suprihanto

Tags

Terkini

Prabowo, Menjahit Masa Depan dari Seoul

Jumat, 3 April 2026 | 08:27 WIB

Jejak Pastor di Sabuk Asteroid

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:15 WIB

Seruan Damai dari Balkon Vatikan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 00:17 WIB

Alarm Gempa dari Ruang Kuliah Amerika

Minggu, 1 Maret 2026 | 21:41 WIB

Pimpinan Pecah Kongsi dan Janji yang Kembali Ditagih

Senin, 23 Februari 2026 | 22:56 WIB

Eksodus ke Australia dan Cermin Ekonomi Selandia Baru

Kamis, 12 Februari 2026 | 12:04 WIB
X