• Sabtu, 18 April 2026

Baterai Silikon dan Janji 1.000 Kilometer, Ancaman Nyata Bagi Kendaraan BBM

Photo Author
Agung Suprihanto, Jogja 24 Jam
- Kamis, 26 Maret 2026 | 06:25 WIB
Para peneliti Pohang University of Science and Technology (POSTECH)  sedang mengembangkan batere yang sanggup jalankan mobil 1000Km.
Para peneliti Pohang University of Science and Technology (POSTECH) sedang mengembangkan batere yang sanggup jalankan mobil 1000Km.

JOGJA.24JAMNEWS.COM - Di tengah dorongan global menuju kendaraan listrik, satu pertanyaan lama terus membayangi: seberapa jauh mobil listrik bisa melaju sebelum harus kembali “minum” daya?

Jawaban atas pertanyaan itu pelan-pelan berubah—dan kali ini datang dari laboratorium di Korea Selatan.

Riset terbaru dari Pohang University of Science and Technology (POSTECH) menawarkan secercah lompatan, bukan sekadar langkah.

Baca Juga: Pelantikan Kagama Klaten, Melanjutkan Jejak Yang Tertinggal

Para penelitinya mengembangkan baterai berbasis silikon yang diklaim mampu membawa kendaraan listrik menempuh hingga 1.000 kilometer dalam sekali pengisian.

Angka yang, jika benar-benar terwujud dalam produksi massal, berpotensi menggeser persepsi publik: dari “cukup untuk kota” menjadi “siap untuk perjalanan jauh.”

Namun, yang menarik bukan hanya jaraknya. Melainkan pendekatan yang diambil.

Baca Juga: Pelantikan Kagama Klaten, Melanjutkan Jejak Yang Tertinggal

Selama ini, silikon dikenal sebagai kandidat ideal pengganti grafit pada anoda baterai lithium-ion karena kapasitas penyimpan energinya jauh lebih besar. Masalahnya klasik: silikon “mengembang”—bahkan hingga tiga kali lipat—saat mengisi daya, lalu menyusut kembali saat digunakan. Siklus ini merusak struktur baterai dan memperpendek umur pakai.

Banyak peneliti mencoba mengakali dengan membuat silikon dalam bentuk nano. Solusinya bekerja, tetapi mahal dan sulit diproduksi secara massal—sebuah ironi untuk teknologi yang diharapkan menjadi arus utama.

Baca Juga: Hari Air Sedunia: Air Melimpah, Tapi Krisis?

Tim POSTECH justru mengambil jalur yang lebih “membumi”: menggunakan silikon berukuran mikro, ribuan kali lebih besar dari partikel nano. Lebih sederhana, lebih murah, dan—yang terpenting—lebih realistis untuk industri.

Untuk mengatasi masalah kembang-kempis, mereka memanfaatkan gel polimer elektrolit yang mampu beradaptasi mengikuti perubahan bentuk silikon, lalu mengikatnya secara kimia melalui radiasi elektron agar tetap stabil.

Hasilnya bukan sekadar eksperimen laboratorium yang rapuh. Mereka mengklaim baterai ini memiliki stabilitas setara baterai lithium-ion konvensional, tetapi dengan densitas energi 40 persen lebih tinggi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Agung Suprihanto

Tags

Terkini

Prabowo, Menjahit Masa Depan dari Seoul

Jumat, 3 April 2026 | 08:27 WIB

Jejak Pastor di Sabuk Asteroid

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:15 WIB

Seruan Damai dari Balkon Vatikan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 00:17 WIB

Alarm Gempa dari Ruang Kuliah Amerika

Minggu, 1 Maret 2026 | 21:41 WIB

Pimpinan Pecah Kongsi dan Janji yang Kembali Ditagih

Senin, 23 Februari 2026 | 22:56 WIB

Eksodus ke Australia dan Cermin Ekonomi Selandia Baru

Kamis, 12 Februari 2026 | 12:04 WIB
X