JOGJA.24JAMNEWS.COM - Di sebuah ruang kompetisi teknologi di Singapura, riuh rendah para pengembang bertemu dengan satu keresahan yang sama: bagaimana melawan kejahatan digital yang bergerak lebih cepat dari regulasi.
Dari situ, lahir sebuah ironi sekaligus harapan—tim muda asal Indonesia justru menemukan cara “memburu” praktik judi online dengan kecanggihan yang selama ini sering dianggap bagian dari masalah itu sendiri.
Baca Juga: KaMU 9 Dibuka, UMKM Jogja Disiapkan Kuasai Digital dan AI Siap Naik Kelas
Adalah Reynaldo Wijaya Hendry bersama timnya yang mencuri perhatian dalam ajang OpenAI Codex Hackathon.
Mereka tidak sekadar datang membawa ide, tetapi juga kegelisahan yang akrab di telinga banyak keluarga Indonesia: cerita tentang utang, kecanduan, dan rumah tangga yang retak akibat judi daring.
Dari kegelisahan itu, mereka melahirkan GambitHunter—sebuah sistem berbasis kecerdasan buatan yang bekerja seperti pemburu senyap.
Cara kerjanya sederhana dalam konsep, tetapi kompleks dalam eksekusi. GambitHunter menjelajah internet, mengendus situs-situs mencurigakan, lalu memilah mana yang benar-benar menjadi sarang perjudian digital.
Baca Juga: Tadarus Malam di Rumah Peradaban Demak
Ia membaca pola bahasa, struktur halaman, hingga elemen visual yang khas.
Di titik ini, mesin tidak lagi sekadar alat bantu; ia menjadi pengambil keputusan awal.
Namun kekuatan sesungguhnya terletak pada tahap kedua. Setelah sebuah situs teridentifikasi, sistem ini masuk lebih dalam—menelusuri mekanisme pembayaran, bahkan dalam beberapa kasus membuat akun untuk memahami alur transaksi.
Baca Juga: Amanat Sultan: Satriya di Jalan Pengabdian Birokrasi
Di sana, ia mengumpulkan data krusial: nomor rekening, nomor telepon, hingga tangkapan layar sebagai bukti. Semua direkap otomatis, rapi, dan siap digunakan.
Pendekatan ini terasa “kejam” bagi pelaku, tetapi justru di situlah efektivitasnya. Ketika domain situs dapat berganti dalam hitungan jam, jejak transaksi menjadi titik lemah yang sulit disamarkan. GambitHunter memanfaatkan celah itu—menggeser medan pertempuran dari permukaan ke lapisan yang lebih dalam.