• Sabtu, 18 April 2026

Tadarus Malam di Rumah Peradaban Demak

Photo Author
Agung Suprihanto, Jogja 24 Jam
- Selasa, 17 Maret 2026 | 21:42 WIB
Suasana Tadarus malam: Mushaf dibuka, suara pelan mulai mengalunkan ayat demi ayat. Ilustrasi: AI
Suasana Tadarus malam: Mushaf dibuka, suara pelan mulai mengalunkan ayat demi ayat. Ilustrasi: AI

JOGJA.24JAMNEWS.COM - Ketika malam semakin larut di Masjid Agung Demak, keramaian perlahan surut.

Para peziarah yang sejak siang memadati pelataran mulai berkurang. Lampu-lampu masjid tetap menyala, tetapi suasananya berubah menjadi lebih tenang.

Di waktu seperti inilah Ramadan terasa paling dalam—ketika suara manusia menurun, dan lantunan ayat-ayat suci mulai mengambil alih ruang.

Baca Juga: Garebeg Sawal Puncak Rangkaian Hajad Dalem Idulfitri 2026 di Keraton Yogyakarta

Selepas salat Tarawih, beberapa jamaah tidak langsung pulang. Mereka membentuk lingkar-lingkar kecil di serambi dan di dalam ruang utama masjid.

Mushaf dibuka, suara pelan mulai mengalunkan ayat demi ayat. Inilah tadarus malam—tradisi yang mungkin sederhana, tetapi di tempat seperti Masjid Agung Demak ia terasa seperti melanjutkan sesuatu yang sudah berlangsung lama, berabad-abad.

Masjid ini sering disebut sebagai salah satu pusat awal perkembangan Islam di Jawa, tempat dakwah para tokoh yang kemudian dikenal sebagai Wali Songo pernah berakar kuat.

Baca Juga: Kaesang ke KH. Yasin Nawawi Parpol Kok Perjalanan Spiritual?

Dari lingkungan inilah Islam tidak hanya diajarkan sebagai ibadah pribadi, tetapi juga sebagai fondasi masyarakat baru—peradaban yang menggabungkan nilai agama dengan kebijaksanaan lokal.

Karena itu, tadarus di Masjid ini terasa lebih dari sekadar membaca Al-Qur’an. Ia seperti percakapan panjang lintas generasi.

Ayat-ayat yang dilantunkan malam ini adalah pengulangan yang juga pernah dibaca oleh orang-orang yang hidup ratusan tahun lalu di tempat yang sama.

Baca Juga: Demak, di Rumah Para Wali yang Tak Pernah Sepi

Mereka membaca untuk memahami iman yang baru tumbuh. Kita membacanya untuk menjaga agar iman itu tetap hidup.

Di tengah keheningan malam, suara bacaan Al-Qur’an bergema pelan di antara tiang-tiang kayu tua. Tidak ada pengeras suara, tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorotan lampu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Agung Suprihanto

Tags

Terkini

Kartini vs Theodora: Ketika Ide Bertemu Kekuasaan

Selasa, 14 April 2026 | 10:47 WIB

Dorrr, Indonesia Punya Pabrik Mobil

Jumat, 10 April 2026 | 05:46 WIB

Kampus, Rumah, dan Janji yang Perlu Ditepati

Selasa, 7 April 2026 | 01:24 WIB

Seribu Rumah, Semangat Gotong Royong

Senin, 6 April 2026 | 23:52 WIB

Negara Hadir Jaga Anak Digital

Rabu, 1 April 2026 | 01:20 WIB

Langkah Sunyi di Tokyo

Senin, 30 Maret 2026 | 16:58 WIB

Semangat Taruna Indonesia di Tokyo

Senin, 30 Maret 2026 | 16:41 WIB
X