JOGJA.24JAMNEWS.COM - Ketika malam semakin larut di Masjid Agung Demak, keramaian perlahan surut.
Para peziarah yang sejak siang memadati pelataran mulai berkurang. Lampu-lampu masjid tetap menyala, tetapi suasananya berubah menjadi lebih tenang.
Di waktu seperti inilah Ramadan terasa paling dalam—ketika suara manusia menurun, dan lantunan ayat-ayat suci mulai mengambil alih ruang.
Baca Juga: Garebeg Sawal Puncak Rangkaian Hajad Dalem Idulfitri 2026 di Keraton Yogyakarta
Selepas salat Tarawih, beberapa jamaah tidak langsung pulang. Mereka membentuk lingkar-lingkar kecil di serambi dan di dalam ruang utama masjid.
Mushaf dibuka, suara pelan mulai mengalunkan ayat demi ayat. Inilah tadarus malam—tradisi yang mungkin sederhana, tetapi di tempat seperti Masjid Agung Demak ia terasa seperti melanjutkan sesuatu yang sudah berlangsung lama, berabad-abad.
Masjid ini sering disebut sebagai salah satu pusat awal perkembangan Islam di Jawa, tempat dakwah para tokoh yang kemudian dikenal sebagai Wali Songo pernah berakar kuat.
Baca Juga: Kaesang ke KH. Yasin Nawawi Parpol Kok Perjalanan Spiritual?
Dari lingkungan inilah Islam tidak hanya diajarkan sebagai ibadah pribadi, tetapi juga sebagai fondasi masyarakat baru—peradaban yang menggabungkan nilai agama dengan kebijaksanaan lokal.
Karena itu, tadarus di Masjid ini terasa lebih dari sekadar membaca Al-Qur’an. Ia seperti percakapan panjang lintas generasi.
Ayat-ayat yang dilantunkan malam ini adalah pengulangan yang juga pernah dibaca oleh orang-orang yang hidup ratusan tahun lalu di tempat yang sama.
Baca Juga: Demak, di Rumah Para Wali yang Tak Pernah Sepi
Mereka membaca untuk memahami iman yang baru tumbuh. Kita membacanya untuk menjaga agar iman itu tetap hidup.
Di tengah keheningan malam, suara bacaan Al-Qur’an bergema pelan di antara tiang-tiang kayu tua. Tidak ada pengeras suara, tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorotan lampu.