Hanya huruf-huruf suci yang bergerak dari bibir ke udara, lalu kembali mengendap dalam hati dan perasaan orang-orang yang mendengarnya.
Barangkali inilah sebabnya banyak orang merasa betah berlama-lama di masjid ini pada malam-malam bulan suci Ramadan.
Baca Juga: Buka Puasa Kaum Dhuafa Bersama Komunitas Sega Mubeng
Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi ruang yang menyimpan ingatan panjang tentang bagaimana sebuah masyarakat pernah dibentuk oleh ayat-ayat yang terus dilantunkan.
Tadarus malam di Masjid Agung Demak mengingatkan bahwa peradaban tidak selalu lahir dari keputusan besar atau peristiwa monumental.
Kadang ia tumbuh dari kebiasaan yang tampak sederhana—sekelompok orang yang berkumpul, membaca ayat demi ayat dengan sabar, malam demi malam.
Baca Juga: Ramadan yang Menyatukan di Syuhada
Masjid ini telah menyaksikan banyak perubahan zaman. Kerajaan berganti, kota berkembang, generasi datang dan pergi.
Namun selama lantunan ayat-ayat suci masih terdengar di dalamnya, Masjid Agung Demak tetap menjadi rumah bagi sebuah warisan yang lebih besar dari bangunannya sendiri, yaitu peradaban yang lahir dari kata-kata suci yang dibaca dengan setia.
Maka setiap malam Ramadan, ketika tadarus kembali dimulai, rumah peradaban itu seperti dihidupkan lagi—halaman demi halaman.