Reaksi dari Teheran memperlihatkan dimensi lain dari persoalan ini. Setelah eskalasi militer terjadi, Iran mencoba membuka jalur diplomasi melalui Vatikan. Duta besar Iran untuk Tahta Suci, Mohammad Hossein Mokhtari, secara terbuka meminta paus mengutuk serangan terhadap negaranya.
Ia bahkan menyebut permintaan itu sebagai “tugas moralnya”. Namun hingga beberapa hari kemudian, tidak ada tanggapan resmi dari Vatikan.
Baca Juga: Revolusi Sunyi dari Pedesaan di Jerman yang Mengubah Dunia Keuangan
Mokhtari mengatakan ia telah menulis kepada paus dan para pejabat senior di sana, tetapi “sayangnya belum menerima jawaban apa pun”.
Bagi Teheran, kecaman dari Vatikan bukan sekadar simbol. Dalam kalkulasi diplomatik Iran, pernyataan keras dari paus dapat menjadi sinyal moral yang memberi tekanan politik kepada Washington—terutama dalam situasi ketika kelompok Kristen memiliki pengaruh kuat dalam pemerintahan Amerika Serikat saat ini.
Baca Juga: Sahur Bersama Ibu Shinta: Memaknai Perubahan
Di titik ini terlihat paradoks lama diplomasi Vatikan. Di satu sisi, Tahta Suci masih dipandang sebagai ruang moral yang unik dalam politik internasional.
Negara-negara tetap datang dan berharap mendapatkan dukungan simbolik yang dapat memperkuat posisi mereka.
Namun di sisi lain, dunia geopolitik modern semakin ditentukan oleh kekuatan militer, aliansi strategis, dan kalkulasi kekuasaan.
Baca Juga: Benih Harapan dari Nanggulan
Tanpa saluran komunikasi yang efektif dengan Washington—yang disebut-sebut tengah mengalami ketegangan dengan Vatikan—ruang gerak diplomasi paus menjadi semakin sempit.
Pada akhirnya, perang Iran kembali memperlihatkan kenyataan yang tidak selalu nyaman bagi Tahta Suci: otoritas moral mungkin masih dihormati, tetapi dalam dunia yang digerakkan oleh kekuatan dan kepentingan, suara moral itu tidak selalu cukup kuat untuk mengubah arah sejarah.