JOGJA.24JAMNEWS.COM - Strategi mikro pengolahan sampah yang didorong Presiden Prabowo Subianto kini menemukan panggung nyatanya di kampus.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto meninjau fasilitas pengolahan sampah di Universitas Gadjah Mada melalui Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT), Jumat (13/2/2026).
Kunjungan ini bukan sekadar agenda lapangan, melainkan penegasan bahwa percepatan teknologi pengolahan sampah skala mikro—yang sebelumnya dibahas di Istana—harus siap dijalankan dari hulu.
Baca Juga: Ketika AI Mengguncang Meja Kantor dan Merehab Martabat Kerja Otot
Di PIAT UGM, seluruh sampah dari kawasan kampus serta sejumlah hotel, rumah sakit, dan lingkungan sekitar dikumpulkan dan diproses terpusat.
Volume yang ditangani hampir 10 ton per hari—angka yang identik dengan target uji coba nasional di tingkat kelurahan.
Dengan kata lain, model yang ingin direplikasi pemerintah sebenarnya sudah berjalan.
Sistemnya terintegrasi. Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara budidaya maggot dimanfaatkan untuk mempercepat dekomposisi.
Rantai pengelolaan dirancang menyatu: dari pengumpulan, pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali.
“Proses pengolahan sampah sangat lengkap. Semoga kualitasnya bisa terus ditingkatkan lagi, sehingga pada akhirnya pengelolaan sampah yang modern ini bisa kita pandang sebagai percontohan dalam penanganan sampah yang terintegrasi,” ujar Menteri Brian.
Pernyataan itu penting jika dikaitkan dengan arah kebijakan sebelumnya.
Baca Juga: Riset Kelas Dunia, Ambisi di Teluk Ekas, Lombok
Di Istana Kepresidenan, Brian menyampaikan bahwa Presiden meminta inovasi kampus dipercepat implementasinya dan tidak berhenti di laboratorium.
Targetnya jelas: sekitar 10 ton sampah per hari di level kelurahan. Artinya, PIAT bukan sekadar fasilitas akademik, melainkan prototipe kebijakan nasional.