JOGJA.24JAMNEWS.COM - Dalam momentum Hari Nelayan Nasional 2026, Wakil Ketua MPR-RI, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas menegaskan arah penting pembangunan maritim Indonesia: ekonomi biru yang berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional. Dalam Diskusi Kebangsaan MPR RI, ia menempatkan nelayan sebagai aktor utama yang tidak boleh lagi berada di pinggir kebijakan.
Baca Juga: Misteri Benda Mirip Torpedo Gegerkan Gili Trawangan Lombok Utara
“Selamat Hari Nelayan Nasional bagi kita semua. Nelayan adalah garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan bangsa. Laut adalah masa depan kita, dan nelayan adalah penjaganya,” ujar Ibas, menegaskan peran strategis masyarakat pesisir.
Gagasan ekonomi biru, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai konsep akademik. Ia harus hadir dalam praktik nyata yang memperkuat sistem pangan berbasis laut. “Ekonomi biru tidak boleh berhenti sebagai konsep. Blue food harus menjadi kekuatan nyata dalam sistem pangan nasional yang kita bangun bersama,” tegasnya.
Baca Juga: Lyodra Ginting Hadirkan Lagu Rohani Pertama Penuh Makna Mendalam
Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian—mulai dari krisis energi hingga gangguan rantai pasok—Ibas melihat sektor kelautan sebagai jawaban bagi kemandirian bangsa. Namun, tantangan tidak hanya soal produksi. Distribusi yang belum efisien, keterbatasan akses modal, teknologi, hingga dampak perubahan iklim masih membayangi kehidupan nelayan.
“Kita tidak boleh meninggalkan masyarakat lokal, para nelayan kita. Mereka harus menjadi aktor utama dalam ekosistem kelautan yang berkelanjutan,” katanya.
Baca Juga: Pulangnya Sang Penjaga Damai dari Tanah Lebanon
Indonesia memiliki potensi besar dari kekayaan laut, mulai dari ikan hingga komoditas bernilai tinggi seperti lobster dan mutiara. Namun, tanpa pengelolaan yang bijak, potensi itu tidak akan optimal. Karena itu, Ibas mendorong hilirisasi industri perikanan agar hasil laut tidak lagi dijual mentah, melainkan diolah untuk meningkatkan nilai tambah.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kesinambungan kebijakan lintas pemerintahan. Fondasi yang telah dibangun sebelumnya harus diteruskan agar sektor kelautan berkembang secara konsisten dan berkelanjutan.
Baca Juga: Pengukuhan Suryo Ndadari Perkuat Sinergi Pelayanan Publik Sleman
Diskusi tersebut juga memperkuat urgensi kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan komunitas nelayan. Dari penguatan koperasi hingga pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, semua diarahkan untuk menciptakan ekosistem maritim yang inklusif.
Baca Juga: Kampus, Rumah, dan Janji yang Perlu Ditepati
Menutup pernyataannya, Ibas mengajak seluruh pihak membangun budaya maritim yang kuat, termasuk meningkatkan konsumsi pangan laut. Baginya, langkah ini bukan hanya menguatkan ekonomi nelayan, tetapi juga meningkatkan kualitas generasi masa depan Indonesia.