Theodora mendorong hukum yang melindungi perempuan dari eksploitasi dan memberi ruang lebih dalam kehidupan sosial. Ia bekerja dari dalam sistem, memanfaatkan celah kekuasaan untuk mengubah aturan main.
Kartini, sebaliknya, bekerja sebelum aturan itu berubah. Ia menggugat cara berpikir yang melahirkan ketidakadilan itu sendiri. Ia tidak mengubah hukum, tetapi mempertanyakan mengapa hukum dan tradisi bisa begitu timpang.
Baca Juga: “Para Perasuk” Terpilih di Miami Film Festival 43, Jadi Debut Akting Anggun di Film
Membandingkan keduanya seperti membandingkan api dan air. Yang satu cepat, terlihat, dan langsung terasa. Yang lain pelan, meresap, tapi mampu mengubah dari dalam.
Kekuasaan, seperti yang dimiliki Theodora, bisa memaksa perubahan terjadi hari ini. Tapi ia sering terikat pada waktu—pada rezim, pada struktur, pada siapa yang memegang kendali. Ide, seperti yang ditulis Kartini, mungkin tampak lemah pada awalnya. Ia tidak memaksa. Ia menunggu. Tapi justru karena itu, ia bisa bertahan lebih lama.
Mungkin itulah sebabnya kita masih membaca Kartini hari ini, meski ia tidak pernah menandatangani satu pun hukum.
Baca Juga: Di Antara Denting Perang, Agnez Mo Menemukan Wajah Lain Dubai
Dan mungkin itu pula yang membuat Theodora tetap dikenang—karena ia menunjukkan bahwa ketika kesempatan datang, perempuan bisa menggunakan kekuasaan seefektif siapa pun.
Pada akhirnya, cerita mereka bukan tentang siapa yang lebih besar. Tapi tentang dua jalan yang berbeda menuju perubahan.
Satu dimulai dari pikiran.
Satu lagi dari kekuasaan.
Dan sejarah, diam-diam, membutuhkan keduanya.
Tulisan ini dibuat untuk memeringati Hari Kartini.