JOGJA.24JAMNEWS.COM - Paskah adalah perayaan kemenangan kehidupan atas kematian, terang atas kegelapan, dan kasih atas kebencian.
Namun di tengah dunia hari ini, pesan agung itu terasa seperti menggema di ruang kosong. Iman dirayakan dengan meriah, tetapi realitas kehidupan justru menunjukkan arah yang berlawanan.
Baca Juga: Salib di Atas Bumi yang Dieksploitasi: Gugatan Nurani dari Golgota hingga Yogyakarta
Di panggung global, nafsu manusia—bahkan yang dibungkus identitas keagamaan—masih melahirkan konflik dan ketegangan.
Relasi antara negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Israel, dan Iran memperlihatkan betapa kekuasaan, kepentingan ekonomi, dan dominasi sering lebih diutamakan daripada kemanusiaan.
Dampaknya nyata: ketidakstabilan ekonomi global, krisis energi, dan kerusakan lingkungan yang semakin luas.
Di dalam negeri, situasinya tidak jauh berbeda. Korupsi masih merajalela, keadilan sering terasa tumpul ke atas dan tajam ke bawah, sementara penegakan hukum berjalan pincang.
Lingkungan hidup terus menjadi korban: hutan ditebang, sungai tercemar, dan sampah menggunung—terutama setelah perayaan-perayaan besar keagamaan.
Baca Juga: Laudato Si’ di Gereja Pringgolayan
Ironisnya, di tengah situasi ini, kehidupan beragama justru tampak semakin semarak secara lahiriah. Gereja dan rumah ibadah penuh saat hari raya. Liturgi dirayakan dengan khidmat. Namun sering kali semuanya berhenti pada ritual.
Ensiklik Laudato Si’ yang menyerukan pertobatan ekologis belum sungguh menjadi gerakan hidup. Konsumerisme justru meningkat, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan masih minim.
Baca Juga: Ironi Air: Dari Kelimpahan yang Menipu hingga Masa Depan yang Diperebutkan
Paskah seharusnya mengguncang kenyamanan semu ini. Yesus yang memanggul salib dan dimahkotai duri bukan sekadar simbol penderitaan. Ia adalah tanda cinta yang total—cinta yang rela berkorban demi manusia dan seluruh ciptaan.