Salib adalah panggilan untuk terlibat: berani menderita demi kebenaran, berani melayani tanpa pamrih, dan berani merawat bumi sebagai rumah bersama.
Maka, Paskah bukan sekadar perayaan, melainkan undangan untuk berubah.Kita diajak bercermin: jangan-jangan kita telah menjadi “Farisi modern”—rajin beribadah tetapi kehilangan belas kasih. Atau “Yudas zaman ini”—menukar nilai kebenaran demi keuntungan pribadi. Bahkan mungkin kita adalah “Pilatus masa kini”—tahu kebenaran, tetapi memilih diam demi keamanan posisi.
Baca Juga: GILA. Mashadi Tanam 4,5 Juta Mangrove
Jika demikian, iman kita belum bangkit.Kebangkitan Kristus menuntut lahirnya manusia baru. Manusia yang tidak lagi dikuasai keserakahan, tidak tunduk pada ketidakadilan, dan tidak apatis terhadap penderitaan serta kerusakan lingkungan.
Manusia baru adalah mereka yang berani hidup sederhana di tengah arus konsumtif, berani jujur di tengah budaya korupsi, dan berani peduli di tengah individualisme.
Baca Juga: Air Tersembunyi di Piring Kita Air dibutuhkan manusia tidak hanya
Di sinilah semangat Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang menemukan relevansinya: menghadirkan Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan mensejahterakan.
Kebahagiaan itu bukan euforia sesaat dalam liturgi, tetapi buah dari hidup yang selaras dengan kehendak Tuhan. Gereja yang menginspirasi bukan hanya lewat kata-kata, tetapi melalui teladan nyata umatnya.
Dan kesejahteraan sejati tidak mungkin terwujud tanpa keadilan sosial serta lingkungan yang lestari.
Baca Juga: Hutan untuk Kehidupan, Bukan Sekadar Kepentingan
Artinya, umat beriman dipanggil untuk melampaui altar dan masuk ke realitas kehidupan. Paskah harus tampak dalam tindakan konkret: mengurangi sampah, menolak korupsi sekecil apa pun, membela yang lemah, serta menjaga alam ciptaan. Iman yang hidup adalah iman yang bekerja.
Bayangkan jika semangat ini sungguh dihidupi. Harga kebutuhan tidak melonjak karena keserakahan ditekan.
Lapangan kerja tumbuh karena keadilan ditegakkan.
Lingkungan menjadi lebih lestari karena manusia hidup dengan kesadaran ekologis.
Baca Juga: Menanam Kawat Tembaga di Tanah: Solusi atau Masalah Baru bagi Pertanian?