lingkungan

Kota Jogja, Air yang Diam-Diam Mengkhianati

Kamis, 16 April 2026 | 10:42 WIB
Sumur yang berada di kelurahan Keparakan, Yogyakarta. Sumur ini dibutuhkan 11 KK dan 1 mck umum. Sudah diperiksa, airnya tercemar E-coli . Foto: GS Purwanto.

JOGJA.24JAMNEWS.COM - Pagi itu, segelas air tampak biasa saja—jernih, tak berbau, mengalir dari sumur yang sama selama puluhan tahun.

Ia direbus, dituangkan ke gelas, lalu diminum dengan keyakinan yang nyaris tak pernah dipertanyakan. Di banyak rumah di Yogyakarta, ritual ini berulang setiap hari: sederhana, tenang, dan terasa aman.

Namun, di balik kejernihan itu, ada sesuatu yang tak kasatmata—dan justru karena itu, luput dari kewaspadaan.

Baca Juga: Embarkasi Baru, Harapan Baru: 3.830 Jemaah Haji DIY Siap Menapaki Tanah Suci

Sepanjang tiga bulan pertama 2026, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat 2.534 kasus diare. Januari menyumbang 975 kasus, Februari 810, dan Maret 749. Angka yang mungkin terlihat sebagai fluktuasi biasa, tetapi sesungguhnya menyimpan pola yang konsisten, penyakit yang terus hadir, tanpa benar-benar pernah pergi.

Di baliknya, ada nama yang terdengar teknis, nyaris asing bagi keseharian warga: Escherichia coli. Bakteri ini ditemukan hampir di seluruh sampel air sumur yang diuji. Bahkan, Dinas Lingkungan Hidup menyebut 99 persen sumur di kota ini telah tercemar. Hampir semua.

Baca Juga: Normalisasi Sungai Anakan Kali Oyo Wujud Harapan Warga Hargomulyo

Sebuah angka yang sulit dianggap kebetulan.
Sumbernya bukan sesuatu yang jauh. Justru sangat dekat—terlalu dekat.

Septic tank yang berdempetan dengan sumur, kepadatan permukiman tanpa ruang untuk sanitasi yang layak, serta kebiasaan lama yang bertahan tanpa banyak koreksi.

Air tanah, yang dulu diyakini sebagai cadangan paling bersih, kini membawa jejak aktivitas manusia itu sendiri.

Upaya penanganan terus berjalan. Chlorine diffuser dipasang, kampanye kebersihan digencarkan, dan vaksin Rotavirus mulai diberikan sejak bayi.

Baca Juga: Penebaran Ribuan Benih Ikan Lokal Edukasi Konservasi Sungai Bedog

Sebagian warga beralih ke air PDAM, meski belum sepenuhnya percaya untuk mengonsumsinya. Di sisi lain, air sumur tetap digunakan—direbus, disaring, atau sekadar diterima sebagai bagian dari kebiasaan.

Di titik ini, persoalan menjadi lebih dari sekadar kesehatan. Ia menyentuh wilayah kepercayaan, kebiasaan, dan cara kita memaknai risiko.

Halaman:

Tags

Terkini

Kota Jogja, Air yang Diam-Diam Mengkhianati

Kamis, 16 April 2026 | 10:42 WIB

Paskah Tanpa Aksi: Iman yang Kehilangan Makna

Sabtu, 4 April 2026 | 07:47 WIB

Laudato Si’ di Gereja Pringgolayan

Minggu, 29 Maret 2026 | 12:35 WIB

Solusi Air dari Langit

Selasa, 24 Maret 2026 | 23:43 WIB

Hari Air Sedunia: Air Melimpah, Tapi Krisis?

Senin, 23 Maret 2026 | 00:37 WIB

Hutan untuk Kehidupan, Bukan Sekadar Kepentingan

Sabtu, 21 Maret 2026 | 01:14 WIB

GILA. Mashadi Tanam 4,5 Juta Mangrove

Minggu, 1 Maret 2026 | 16:41 WIB