JOGJA.24JAMNEWS.COM - Setiap tanggal 22 April, dunia memperingati Hari Bumi sebagai momentum refleksi global terhadap kondisi lingkungan yang semakin tertekan.
Namun, Hari Bumi bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan lahir dari kegelisahan mendalam manusia terhadap kerusakan alam akibat aktivitasnya sendiri.
Sejarah, alasan, dan tujuan peringatan ini menjadi penting untuk dipahami agar tidak berhenti sebagai simbol, tetapi berlanjut menjadi gerakan nyata.
Baca Juga: Ketika Kekuasaan Mulai Kehilangan Arah
Hari Bumi pertama kali digagas oleh seorang senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson, pada akhir 1960-an. Saat itu, Amerika dan banyak negara industri mengalami krisis lingkungan serius.
Polusi udara akibat emisi kendaraan dan pabrik meningkat tajam, sungai-sungai tercemar limbah industri, dan penggunaan bahan kimia berbahaya tidak terkendali.
Namun, isu lingkungan belum menjadi perhatian utama dalam kebijakan publik maupun kesadaran masyarakat.
Baca Juga: Veronica Tan: Becanda yang Merendahkan Martabat Orang Lain itu Bukan Humor, itu Kekerasan
Terinspirasi oleh gerakan mahasiswa yang aktif menyuarakan isu sosial dan politik, Nelson menggagas sebuah gerakan nasional yang berfokus pada lingkungan hidup.
Ia menginginkan adanya satu hari khusus yang mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat untuk menyuarakan kepedulian terhadap bumi. Gagasan ini kemudian diwujudkan dalam peringatan Earth Day pertama pada 22 April 1970.
Peristiwa tersebut menjadi tonggak sejarah penting. Sekitar 20 juta orang di Amerika Serikat turun ke jalan dalam aksi damai, mulai dari mahasiswa, pekerja, hingga komunitas lokal. Mereka menuntut lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan aman.
Baca Juga: Pelecehan Seks FH UI Orang Tua, Anak, dan Batas Tanggung Jawab
Aksi besar ini kemudian mendorong lahirnya berbagai kebijakan penting, seperti pembentukan lembaga perlindungan lingkungan serta undang-undang tentang udara bersih, air bersih, dan perlindungan satwa. Sejak saat itu, Hari Bumi berkembang menjadi gerakan global yang kini diperingati di lebih dari 190 negara.
Lalu, mengapa Hari Bumi perlu diperingati? Jawabannya terletak pada kondisi bumi yang terus mengalami tekanan. Pertumbuhan populasi manusia, industrialisasi, dan pola konsumsi yang berlebihan telah menyebabkan kerusakan lingkungan dalam skala besar.