Skema yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan tantangan besar: adaptasi sosial, beban ekonomi baru, hingga perubahan pola hidup yang tidak selalu mudah diterima.
Pramono mengklaim, pendekatan ini mulai menunjukkan hasil.
Baca Juga: Sampah Jadi Listrik: Ambisi Besar Prabowo dan Tantangan di Baliknya
Kawasan yang sebelumnya semrawut menjadi lebih tertata, dan sebagian warga disebut mulai menerima relokasi sebagai pilihan realistis.
Tapi pertanyaan yang lebih dalam tetap mengemuka—apakah penerimaan itu lahir dari kesadaran, atau sekadar karena tak ada alternatif lain?
Blusukan Prabowo ke Pasar Senen seolah mempercepat momentum.
Kunjungan itu menampilkan wajah Jakarta yang sering luput dari narasi resmi pembangunan: warga yang hidup di ruang sempit, berdampingan dengan deru kereta, dalam kondisi yang jauh dari layak.
Baca Juga: Hari Air Sedunia: Air Melimpah, Tapi Krisis?
Kini, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci. Pramono menegaskan kesiapan DKI untuk berjalan seirama.
Tapi seperti banyak kebijakan urban sebelumnya, keberhasilan program ini tak hanya ditentukan oleh niat baik dan koordinasi birokrasi.
Baca Juga: Air Tersembunyi di Piring Kita Air dibutuhkan manusia tidak hanya
Ia akan diuji di lapangan—pada sejauh mana negara benar-benar hadir, bukan hanya memindahkan masalah dari bantaran rel ke lantai-lantai rusun.
Sebab di kota seperti Jakarta, menata ruang hidup bukan sekadar soal memindahkan manusia. Ia adalah soal memastikan mereka tetap bisa hidup.