Di tengah persoalan sampah yang kian menggunung di kota-kota besar, pemerintah mendorong solusi yang terdengar menjanjikan: mengubah sampah menjadi energi.
Dalam pertemuan di Hambalang, Jawa Barat, Prabowo Subianto menerima Rosan Roeslani bersama jajaran kabinet untuk membahas percepatan program Waste to Energy (WTE).
Program ini menargetkan kota-kota padat seperti Jakarta, Bandung, hingga Surabaya—wilayah yang selama ini menjadi episentrum krisis sampah.
Baca Juga: Solusi Air dari Langit
Dalam laporan yang disampaikan, Rosan menekankan bahwa teknologi WTE telah mulai dikembangkan dan diarahkan untuk menjawab dua persoalan sekaligus: lingkungan dan energi.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan, “Kepala Danantara Bapak Rosan Roeslani melaporkan perkembangan program Waste To Energy (WTE) atau program pengelolaan Sampah menjadi Energi di seluruh Indonesia, khususnya yang berada di kota-kota besar dan padat penduduk seperti DKI Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Bali, dan kota lainnya di Indonesia.”
Baca Juga: Air Tersembunyi di Piring Kita Air dibutuhkan manusia tidak hanya
Bagi Presiden Prabowo, persoalan sampah bukan lagi isu daerah, melainkan prioritas nasional. Ia menegaskan perlunya langkah cepat dan terintegrasi.
“Presiden Prabowo menginginkan Pemerintah Pusat segera mengelola sampah-sampah yang telah lama tidak tertangani dengan baik di daerah untuk segera dibersihkan, dihilangkan, dan dimanfaatkan untuk menjadi energi terutama energi listrik,” imbuh Teddy.
Baca Juga: Hari Air Sedunia: Air Melimpah, Tapi Krisis?
Di atas kertas, WTE memang menawarkan solusi ganda: mengurangi timbunan sampah sekaligus menambah pasokan listrik.
Pendekatan ini juga sejalan dengan upaya hilirisasi dan pemanfaatan sumber daya domestik. Tak hanya itu, proyek-proyek ini berpotensi membuka lapangan kerja baru dan menarik investasi teknologi modern.
Baca Juga: Hutan untuk Kehidupan, Bukan Sekadar Kepentingan
Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat sejumlah catatan kritis yang tidak bisa diabaikan. Pertama, teknologi WTE—terutama berbasis insinerasi—kerap menuai kekhawatiran terkait emisi berbahaya seperti dioksin jika tidak dikelola dengan standar tinggi.