JOGJA.24JAMNEWS.COM - Yogyakarta kembali menegaskan diri sebagai ruang hidup kebudayaan melalui gelaran Simposium Internasional Budaya Jawa 2026.
Bertempat di Royal Ambarrukmo, Sleman, acara ini dibuka langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 11 April 2026.
Baca Juga: Syawalan Trah Hamengku Buwono II, Antara Kenangan dan Tanggung Jawab
Mengangkat tema “Architecture, Spatial Planning, and Territory of the Sultanate of Yogyakarta”, simposium ini menjadi jembatan antara warisan leluhur dan tantangan masa kini.
Bagi Yogyakarta, arsitektur dan tata ruang bukan sekadar aspek fisik. Keduanya menyatu sebagai bagian dari filosofi hidup yang menjaga keseimbangan manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Baca Juga: WFH Jumat: Antara Disiplin Digital dan Lompatan Budaya Kerja di Gunungkidul
Hal ini ditegaskan oleh GKR Hayu yang menyebut bahwa nilai tersebut tetap relevan hingga sekarang.
“Fondasi ini telah diletakkan sejak Sri Sultan HB I dan hingga kini tetap menjadi ruh dalam menjaga identitas Yogyakarta di tengah dinamika perkembangan kota,” ujarnya.
Baca Juga: Urban Farming: Nafas Baru Makan Bergizi Gratis dari Jantung Kota Yogyakarta
Simposium ini juga menunjukkan wajah humanis dunia akademik. Sebanyak 132 abstrak dari berbagai negara dikurasi dan didampingi selama berbulan-bulan. Para peneliti lintas generasi berdiskusi tentang sejarah, seni, arsitektur, hingga tata ruang.
Kehadiran akademisi internasional memperkaya perspektif, menjadikan Yogyakarta sebagai “laboratorium hidup” kebudayaan.
Tak hanya untuk akademisi, kegiatan ini juga mendekatkan tata ruang kepada masyarakat. Melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, tersedia layanan konsultasi pertanahan dan panduan perizinan.
Baca Juga: HB II Dibuang Jauh Hingga Penang-Malaysia, Tapi Tidak Pernah Benar-Benar Hilang.
“Kami ingin tata ruang terasa dekat dan dipahami masyarakat,” imbuh GKR Hayu.