jogja

Gunungkidul Membangun Angka yang Jujur, Ujian Akurasi Data di Desa

Kamis, 16 April 2026 | 21:05 WIB
Tiga kalurahan di Kapanewon Playen—Playen, Plembutan, dan Banaran—dipilih sebagai perintis Desa Cantik. Foto: IG @pamkab gunungkidul

JOGJA.24JAMNEWS.COM - Peluncuran program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) 2026 di Gunungkidul layak dibaca lebih dari sekadar seremoni administratif.

Di tengah riuh pembangunan yang kerap dibanggakan lewat angka-angka, inisiatif ini justru mengingatkan pada satu hal mendasar yang sering luput: seberapa bisa dipercaya angka-angka itu sendiri.

Baca Juga: Program Pembinaan Wirausaha Muda untuk Mendorong Usaha Nyata dan Berkelanjutan di Yogyakarta 

Tiga kalurahan di Kapanewon Playen—Playen, Plembutan, dan Banaran—dipilih sebagai perintis. Pilihan yang tidak jatuh begitu saja. Ada kesiapan sumber daya manusia yang relatif muda dan adaptif, infrastruktur digital yang memadai, hingga disiplin administratif yang teruji. 

Kombinasi yang, setidaknya di atas kertas, menjanjikan fondasi kuat bagi tata kelola data yang lebih rapi dan bertanggung jawab.

Namun, menariknya bukan semata pada siapa yang ditunjuk, melainkan pada arah kebijakan yang hendak dibangun.

Baca Juga: SAPA 129, Akses Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak

Pemerintah daerah bersama Badan Pusat Statistik (BPS) seperti ingin menggeser posisi desa: dari objek yang sekadar dilaporkan, menjadi subjek yang aktif memproduksi dan memaknai data. Sebuah lompatan paradigma yang terdengar ideal—dan karenanya menantang.

Selama ini, problem klasik pembangunan di Indonesia bukan kekurangan data, melainkan kelebihan data yang saling bertabrakan.

Baca Juga: Kota Jogja, Air yang Diam-Diam Mengkhianati

Angka kemiskinan bisa berbeda antara satu instansi dengan instansi lain. Data stunting, pengangguran, bahkan jumlah penduduk, kerap tidak sinkron antara level kabupaten, provinsi, hingga nasional.

Dalam situasi seperti itu, kebijakan sering berdiri di atas fondasi yang goyah—terlihat presisi, tetapi sesungguhnya rapuh.

Baca Juga: Embarkasi Baru, Harapan Baru: 3.830 Jemaah Haji DIY Siap Menapaki Tanah Suci

Di titik inilah Desa Cantik menemukan relevansinya. Ketika data mulai dibangun dari unit terkecil pemerintahan, dengan pendampingan metodologis yang lebih ketat, ada harapan munculnya satu mata rantai data yang lebih konsisten dari bawah ke atas. 

Halaman:

Tags

Terkini

Ketika Kekuasaan Mulai Kehilangan Arah

Jumat, 17 April 2026 | 11:53 WIB

Yang Berkuasa Bukan yang Bertahta

Kamis, 16 April 2026 | 11:16 WIB

Kota Jogja, Air yang Diam-Diam Mengkhianati

Kamis, 16 April 2026 | 10:42 WIB

HB II Setelah Semuanya Diambil, Apa yang Tersisa?

Minggu, 12 April 2026 | 07:02 WIB