jogja

Syawalan Trah Hamengku Buwono II, Antara Kenangan dan Tanggung Jawab

Senin, 13 April 2026 | 23:04 WIB
Foto: Istimewa

 

JOGJA.24JAMNEWS - Suasana Syawalan Pasederekan Trah Hamengku Buwono II pada Minggu siang itu terasa lebih dari sekadar temu kangen keluarga besar. Di sebuah sudut Sleman, tepatnya di Restoran Kayu Manis, percakapan tentang masa lalu berkelindan dengan kegelisahan masa kini—sebuah refleksi tentang warisan, tanggung jawab, dan arah ke depan.

Baca Juga: HB II Dibuang Jauh Hingga Penang-Malaysia, Tapi Tidak Pernah Benar-Benar Hilang.

Acara dibuka dengan formalitas yang khidmat—lagu kebangsaan dan pembacaan Sastra Mantra—namun segera mencair dalam nuansa guyub rukun khas Jawa. Hadir di tengah-tengah itu Hasto Wardoyo, GBPH Yudhaningrat, Sudaryaka, serta tokoh masyarakat KH Abdul Muhaimin. 

Nama-nama itu bukan sekadar daftar tamu; mereka seperti simpul yang menghubungkan masa lalu dan masa kini Yogyakarta.

Baca Juga: Urban Farming: Nafas Baru Makan Bergizi Gratis dari Jantung Kota Yogyakarta

Dalam sambutannya, Hasto Wardoyo mencoba menarik garis lurus dari keteguhan Hamengku Buwono II ke konteks kota modern. Ia menyinggung sosok raja yang keras kepala terhadap kolonialisme—yang menolak tunduk, bahkan ketika kompromi tampak lebih mudah. Dalam narasi Hasto, keteguhan itu diterjemahkan ke dalam program konkret: bedah rumah, bersih sungai, kota yang lebih manusiawi. 

Sebuah upaya, barangkali, untuk membumikan heroisme agar tidak berhenti sebagai romantisme sejarah.

Baca Juga: Pantai Bantul, Mencari Arah Di Tengah Deru Pembangunan

Namun refleksi yang lebih tajam justru datang dari GBPH Yudhaningrat. Ia seperti mengingatkan bahwa sejarah bisa menjadi jebakan—ketika kekaguman berhenti pada cerita, bukan tindakan. “Jangan terlena,” kira-kira begitu pesannya. Dalam kalimat yang sederhana, terselip kegelisahan: apakah trah besar ini masih mampu memikul makna gelar panjang yang diwariskan sejak Hamengku Buwono I?

Baca Juga: Pengabdian Tanpa Henti, Hingga Nafas Terakhir: Adrian Subagyo

Ketua Pasederekan, R Hendro Marwoto, menambahkan lapisan lain: kebanggaan selalu datang beriringan dengan beban. Apalagi ketika sosok yang mereka warisi—HB II—masih diperjuangkan untuk diakui sebagai pahlawan nasional. Ada semacam dorongan moral yang tak terucap: pengakuan negara bukan tujuan akhir, melainkan cermin apakah nilai-nilai itu masih hidup di para pewarisnya.

Baca Juga: Geger Sapehi ke Mahkamah Internasional, Menggugat Ingatan yang Dirampas

Di titik ini, Syawalan menjadi lebih dari ritual pasca-Lebaran. Ia menjelma ruang tafsir. Apakah menjadi “keturunan” cukup dimaknai secara genealogis, atau harus dibuktikan secara etis?

Penyerahan buku Sultan Hamengku Buwono II: Pembela Tradisi dan Kekuasaan Jawa karya Djoko Marihandono oleh Suryo Susilo kepada GBPH Yudhaningrat menjadi simbol yang menarik. 

Halaman:

Tags

Terkini

Ketika Kekuasaan Mulai Kehilangan Arah

Jumat, 17 April 2026 | 11:53 WIB

Yang Berkuasa Bukan yang Bertahta

Kamis, 16 April 2026 | 11:16 WIB

Kota Jogja, Air yang Diam-Diam Mengkhianati

Kamis, 16 April 2026 | 10:42 WIB

HB II Setelah Semuanya Diambil, Apa yang Tersisa?

Minggu, 12 April 2026 | 07:02 WIB