jogja

Syawalan Trah Hamengku Buwono II, Antara Kenangan dan Tanggung Jawab

Senin, 13 April 2026 | 23:04 WIB
Foto: Istimewa

Buku, dalam konteks ini, bukan sekadar dokumentasi sejarah, tetapi juga pengingat bahwa narasi tentang HB II masih terus ditulis—dan, mungkin, diperdebatkan.

Menarik pula kehadiran para keturunan tokoh-tokoh besar lain: Indah Sri Achdiati, Hary Sutrasno, Heru S, dan Windriati. Seolah mengisyaratkan bahwa sejarah besar bangsa ini memang dibangun oleh jejaring panjang keluarga-keluarga yang terus hidup—dengan segala tantangannya.

Baca Juga: Unik! Komunitas Agus Gelar Syawalan, Semua Peserta Wajib Punya Unsur Nama “Agus”

Di luar gedung, Yogyakarta bergerak seperti biasa: padat, dinamis, kadang semrawut. Di dalam ruangan itu, orang-orang berbicara tentang kejayaan, keteladanan, dan tanggung jawab. Di antara keduanya, ada jarak yang tak selalu mudah dijembatani.

Mungkin di situlah makna sebenarnya dari Syawalan ini: bukan sekadar mengenang HB II sebagai sosok yang melawan penjajah, tetapi menguji—secara diam-diam—apakah semangat perlawanan itu masih relevan, masih hidup, dan masih punya bentuk di zaman yang jauh berbeda.

Halaman:

Tags

Terkini

Ketika Kekuasaan Mulai Kehilangan Arah

Jumat, 17 April 2026 | 11:53 WIB

Yang Berkuasa Bukan yang Bertahta

Kamis, 16 April 2026 | 11:16 WIB

Kota Jogja, Air yang Diam-Diam Mengkhianati

Kamis, 16 April 2026 | 10:42 WIB

HB II Setelah Semuanya Diambil, Apa yang Tersisa?

Minggu, 12 April 2026 | 07:02 WIB