JOGJA.24JAMNEWS.COM - ndonesia kembali mencatatkan diri di papan atas—bukan dalam sains, bukan dalam literasi, melainkan dalam durasi menatap layar.
Laporan firma riset Sensor Tower menunjukkan sepanjang 2025 masyarakat Indonesia menghabiskan 414 miliar jam menggunakan aplikasi di ponsel.
Angka itu menempatkan Indonesia di posisi kedua dunia setelah India yang mencapai 1,2 triliun jam. Posisi ketiga ditempati Amerika Serikat.
Baca Juga: Gen Z : Generasi Layar dan Ilusi Cerdas
Di Asia Tenggara, Indonesia menjadi yang tertinggi, melampaui Malaysia dan Singapura.
Sementara Filipina, Vietnam, dan Thailand berada di bawahnya. Bahkan China—negara asal banyak raksasa aplikasi—tidak berada di tiga besar global.
Yang menarik bukan hanya durasinya, melainkan jenis aplikasinya. Media sosial mendominasi, dengan TikTok sebagai salah satu yang paling sering diakses.
Baca Juga: Lulus di Usia 20 Tahun, Tiara Menembus Batas di Kedokteran Gigi UGM
Aplikasi short drama seperti Melolo mencatat lonjakan unduhan signifikan. Selain itu, aplikasi pinjaman online, dompet digital, e-commerce, hingga layanan streaming menjadi bagian dari keseharian digital masyarakat.
Angka-angka ini bisa dibaca sebagai kabar baik: penetrasi internet tinggi, ekonomi digital hidup, dan masyarakat cepat beradaptasi dengan teknologi.
Indonesia memang pasar raksasa. Bagi pelaku industri aplikasi, ini surga.
Namun ada sisi lain yang patut direnungkan. Jika sebagian besar dari 414 miliar jam itu dihabiskan untuk konsumsi hiburan cepat dan transaksi instan.
Baca Juga: Jogja, Kota Pelajar yang Diuji Zaman
Maka kita sedang menyaksikan perubahan budaya yang lebih dalam: pergeseran dari kedalaman ke kecepatan, dari proses ke sensasi.