JOGJA.24JAMNEWS.COM - Di dalam Masjid Agung Demak, ada satu tiang yang selalu membuat orang berhenti lebih lama dari biasanya.
Ia serupa dengan tiga tiang lainnya yang merupakan penyangga utama masjid besar, terletak di sisi timur laut di antara empat tiang tersebut.
Tiang itu, sebagiannya tersusun dari potongan-potongan kayu sisa yang disatukan.
Orang menyebutnya saka tatal.
Baca Juga: ZIS di Era Digital: Infrastruktur Sosial yang Sedang Dibangun DIY
Legenda menyebut tiang ini dibuat oleh Sunan Kalijaga, salah satu tokoh dari Wali Songo.
Bukan dari satu batang kayu utuh, melainkan sebagiannya dari serpihan-serpihan kecil yang dirangkai dan diikat dengan rumput hingga menjadi penyangga bangunan.
Hebatnya tiang yang terbuat dari kepingan itu justru mampu menopang masjid ini selama berabad-abad.
Di bulan Ramadan, duduk berdiam diri di bawah saka tatal sering menghadirkan renungan yang berbeda. Ia seperti mengajarkan sesuatu yang sederhana namun dalam: kekuatan tidak selalu datang dari sesuatu yang utuh dan besar.
Baca Juga: Bijak Belanja Lebaran: Jangan Tergoda Diskon
Kadang ia justru lahir dari bagian-bagian kecil yang bersatu dengan niat yang sama.
Masjid ini dibangun pada masa awal Kesultanan Demak, ketika Islam di Jawa masih bertumbuh. Para wali tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga merajut masyarakat yang beragam menjadi satu umat.
Barangkali itulah sebabnya saka tatal sering dimaknai sebagai simbol persatuan—bahwa perbedaan latar, suku, dan kebiasaan dapat disatukan menjadi kekuatan yang kokoh.
Ramadan membuat simbol itu terasa lebih hidup. Saf-saf salat terisi oleh orang-orang yang datang dari berbagai daerah. Musafir, santri, pedagang, keluarga yang sedang berziarah—semua berdiri dalam satu barisan yang sama.