• Sabtu, 18 April 2026

Bisikan di Bawah Saka Tatal

Photo Author
Agung Suprihanto, Jogja 24 Jam
- Minggu, 15 Maret 2026 | 14:08 WIB
Tiang itu, sebagiannya tersusun dari potongan-potongan kayu sisa yang disatukan.  Orang menyebutnya saka tatal. Foto: Istimewa
Tiang itu, sebagiannya tersusun dari potongan-potongan kayu sisa yang disatukan. Orang menyebutnya saka tatal. Foto: Istimewa

 

JOGJA.24JAMNEWS.COM - Di dalam Masjid Agung Demak, ada satu tiang yang selalu membuat orang berhenti lebih lama dari biasanya.

Ia serupa dengan tiga tiang lainnya yang merupakan penyangga utama masjid besar, terletak di sisi timur laut di antara empat tiang tersebut.

Tiang itu, sebagiannya tersusun dari potongan-potongan kayu sisa yang disatukan.

Orang menyebutnya saka tatal.

Baca Juga: ZIS di Era Digital: Infrastruktur Sosial yang Sedang Dibangun DIY

Legenda menyebut tiang ini dibuat oleh Sunan Kalijaga, salah satu tokoh dari Wali Songo.

Bukan dari satu batang kayu utuh, melainkan sebagiannya dari serpihan-serpihan kecil yang dirangkai dan diikat dengan rumput hingga menjadi penyangga bangunan.

Hebatnya tiang yang terbuat dari kepingan itu justru mampu menopang masjid ini selama berabad-abad.

Di bulan Ramadan, duduk berdiam diri di bawah saka tatal sering menghadirkan renungan yang berbeda. Ia seperti mengajarkan sesuatu yang sederhana namun dalam: kekuatan tidak selalu datang dari sesuatu yang utuh dan besar.

Baca Juga: Bijak Belanja Lebaran: Jangan Tergoda Diskon

Kadang ia justru lahir dari bagian-bagian kecil yang bersatu dengan niat yang sama.

Masjid ini dibangun pada masa awal Kesultanan Demak, ketika Islam di Jawa masih bertumbuh. Para wali tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga merajut masyarakat yang beragam menjadi satu umat. 

Barangkali itulah sebabnya saka tatal sering dimaknai sebagai simbol persatuan—bahwa perbedaan latar, suku, dan kebiasaan dapat disatukan menjadi kekuatan yang kokoh.

Ramadan membuat simbol itu terasa lebih hidup. Saf-saf salat terisi oleh orang-orang yang datang dari berbagai daerah. Musafir, santri, pedagang, keluarga yang sedang berziarah—semua berdiri dalam satu barisan yang sama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Agung Suprihanto

Tags

Terkini

Kartini vs Theodora: Ketika Ide Bertemu Kekuasaan

Selasa, 14 April 2026 | 10:47 WIB

Dorrr, Indonesia Punya Pabrik Mobil

Jumat, 10 April 2026 | 05:46 WIB

Kampus, Rumah, dan Janji yang Perlu Ditepati

Selasa, 7 April 2026 | 01:24 WIB

Seribu Rumah, Semangat Gotong Royong

Senin, 6 April 2026 | 23:52 WIB

Negara Hadir Jaga Anak Digital

Rabu, 1 April 2026 | 01:20 WIB

Langkah Sunyi di Tokyo

Senin, 30 Maret 2026 | 16:58 WIB

Semangat Taruna Indonesia di Tokyo

Senin, 30 Maret 2026 | 16:41 WIB
X