Pagi itu, halaman Gedung Ndalem Marsum tak hanya dipadati warga, tetapi juga oleh satu hal yang jarang terlihat dalam distribusi bantuan sosial: rasa saling mengenal.
Sejak pukul delapan, antrean sudah mengular. Dua jam kemudian, 3.026 paket sembako yang disediakan Yayasan Amal Sahabat Kota Solo ludes tersalurkan.
Baca Juga: KaMU 9 Dibuka, UMKM Jogja Disiapkan Kuasai Digital dan AI Siap Naik Kelas
Di banyak tempat, pembagian sembako sering kali identik dengan kupon yang dibagi massal, kerumunan yang tak terkelola, atau bahkan salah sasaran. Namun di sini, pendekatannya berbeda—lebih sunyi, lebih personal, sekaligus lebih sistematis.
Program bertajuk Berbagi Sembako Semarak Ramadan 1447 H ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah akumulasi dari tradisi filantropi yang telah dijaga selama seperempat abad.
Ketua yayasan, Jamal Wiwoho, menyebut tahun ini sebagai capaian tertinggi sepanjang program berjalan: dari sekitar 1.700 paket tahun lalu, melonjak menjadi lebih dari 3.000 paket.
Baca Juga: BPS Perbarui DTSEN Secara Berkala, Masyarakat Dapat Sampaikan Koreksi Data
Lonjakan itu, menurutnya, bukan semata karena kebutuhan yang meningkat, tetapi juga karena meluasnya jejaring kepercayaan. Donatur datang dari berbagai kota—Solo, Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Manado—membentuk lingkar solidaritas yang tak lagi berbasis kedekatan geografis, melainkan kedekatan nilai.
Setiap paket sembako senilai Rp100.000 dikemas dalam ember—praktis, sederhana, dan bisa digunakan kembali. Isinya standar kebutuhan pokok: beras, gula, minyak goreng, mi instan, dan makanan ringan. Namun yang membuat program ini berbeda bukanlah isinya, melainkan cara ia sampai ke tangan penerima.
Alih-alih membagikan kupon secara terbuka, yayasan menerapkan sistem distribusi silang. Donatur tidak hanya menyumbang dana, tetapi juga menjadi penentu penerima manfaat.
Baca Juga: Mensos: Pemeringkatan Desil DTSEN Dilakukan BPS Secara Ilmiah
Satu juta rupiah setara sepuluh kupon, lima juta menjadi lima puluh kupon—dan kupon-kupon itu diserahkan kembali kepada donatur untuk dibagikan kepada orang-orang di sekitar mereka: tetangga, pekerja rumah tangga, tukang sampah, atau siapa pun yang mereka anggap membutuhkan.
Skema ini sederhana, tetapi mengandung asumsi penting: bahwa kemiskinan paling akurat dibaca oleh orang terdekat, bukan oleh panitia yang berjarak. Dengan kata lain, validasi sosial terjadi di tingkat paling mikro—di lingkungan tempat orang hidup sehari-hari.
Hasilnya tampak pagi itu. Warga yang datang bukan sekadar “penerima bantuan”, melainkan orang-orang yang memang telah dikenali.