• Sabtu, 18 April 2026

Menunggu Pulang

Photo Author
Agung Suprihanto, Jogja 24 Jam
- Kamis, 26 Maret 2026 | 08:36 WIB
Sudah empat bulan masih tinggal di trnda. Fpto: ist
Sudah empat bulan masih tinggal di trnda. Fpto: ist

JOGJA.24JAMNEWS.COM - Empat bulan setelah banjir bandang dan longsor menghantam Aceh Tamiang pada akhir November 2025, sebagian warga masih bertahan di tenda-tenda darurat. Di antara terpal dan tiang sederhana itu, kehidupan berjalan dengan segala keterbatasannya—dan harapan yang tak kunjung padam.

Baca Juga: Prediksi Puncak Arus Balik Lebaran 2026

Seorang ibu penyintas, dalam video yang diunggah akun Instagram @asarhumanity, mencoba tegar menceritakan kesehariannya. Ia mengaku kebutuhan makanan relatif tercukupi berkat bantuan yang terus berdatangan. Kue-kue dan bahan pangan tersedia, hasil uluran tangan banyak pihak. Namun, bagi dirinya, persoalan utama bukan lagi soal makan.

“Yang kami minta, kami cepat pindah. Cepat dapat rumah, itu aja,” ujarnya lirih.

Baca Juga: Air Tersembunyi di Piring Kita Air dibutuhkan manusia tidak hanya

Tenda bukan rumah. Ketika tamu datang, ia merasa canggung. Tak ada ruang layak untuk sekadar duduk dan berbincang. Rasa kehilangan itu bukan hanya tentang bangunan fisik, tetapi juga martabat dan kenyamanan hidup.

“Ada sedihnya… kalau ada teman datang, nggak bisa duduk,” tuturnya.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah pusat melalui Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa penanganan pascabencana hampir rampung. Sebagian besar warga, menurutnya, telah dipindahkan ke hunian sementara maupun tetap. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua warga merasakan percepatan itu secara merata.

Baca Juga: Air Tersembunyi di Piring Kita Air dibutuhkan manusia tidak hanya

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebelumnya mencatat ribuan unit hunian sementara masih dalam proses penyelesaian. Artinya, masih ada celah antara klaim penyelesaian dan pengalaman warga.

Persoalan Klasik Pascabencana

Penanganan bencana di Aceh Tamiang memperlihatkan persoalan klasik: distribusi bantuan dan pembangunan hunian yang tidak merata.

Baca Juga: Solusi Air dari Langit

Transparansi data, sinkronisasi antara pusat dan daerah, serta pengawasan pembangunan menjadi kunci agar pemulihan tidak hanya terlihat selesai di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan warga. Tanpa itu, tenda-tenda darurat akan terus menjadi simbol lambannya keadilan pascabencana.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Agung Suprihanto

Tags

Terkini

Kartini vs Theodora: Ketika Ide Bertemu Kekuasaan

Selasa, 14 April 2026 | 10:47 WIB

Dorrr, Indonesia Punya Pabrik Mobil

Jumat, 10 April 2026 | 05:46 WIB

Kampus, Rumah, dan Janji yang Perlu Ditepati

Selasa, 7 April 2026 | 01:24 WIB

Seribu Rumah, Semangat Gotong Royong

Senin, 6 April 2026 | 23:52 WIB

Negara Hadir Jaga Anak Digital

Rabu, 1 April 2026 | 01:20 WIB

Langkah Sunyi di Tokyo

Senin, 30 Maret 2026 | 16:58 WIB

Semangat Taruna Indonesia di Tokyo

Senin, 30 Maret 2026 | 16:41 WIB
X