• Sabtu, 18 April 2026

Simposium Budaya Jawa Soroti Tata Ruang dan Filosofi Yogyakarta

Photo Author
GS Purwanto, Jogja 24 Jam
- Selasa, 14 April 2026 | 00:54 WIB
Simposium Internasional Budaya  Jawa 2026 dibuka langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Foto: dok Pemda DIY.
Simposium Internasional Budaya Jawa 2026 dibuka langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Foto: dok Pemda DIY.

JOGJA.24JAMNEWS.COM - Yogyakarta kembali menegaskan diri sebagai ruang hidup kebudayaan melalui gelaran Simposium Internasional Budaya Jawa 2026.

Bertempat di Royal Ambarrukmo, Sleman, acara ini dibuka langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 11 April 2026.

Baca Juga: Syawalan Trah Hamengku Buwono II, Antara Kenangan dan Tanggung Jawab

Mengangkat tema “Architecture, Spatial Planning, and Territory of the Sultanate of Yogyakarta”, simposium ini menjadi jembatan antara warisan leluhur dan tantangan masa kini.

Bagi Yogyakarta, arsitektur dan tata ruang bukan sekadar aspek fisik. Keduanya menyatu sebagai bagian dari filosofi hidup yang menjaga keseimbangan manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Baca Juga: WFH Jumat: Antara Disiplin Digital dan Lompatan Budaya Kerja di Gunungkidul

Hal ini ditegaskan oleh GKR Hayu yang menyebut bahwa nilai tersebut tetap relevan hingga sekarang.

“Fondasi ini telah diletakkan sejak Sri Sultan HB I dan hingga kini tetap menjadi ruh dalam menjaga identitas Yogyakarta di tengah dinamika perkembangan kota,” ujarnya.

Baca Juga: Urban Farming: Nafas Baru Makan Bergizi Gratis dari Jantung Kota Yogyakarta

Simposium ini juga menunjukkan wajah humanis dunia akademik. Sebanyak 132 abstrak dari berbagai negara dikurasi dan didampingi selama berbulan-bulan. Para peneliti lintas generasi berdiskusi tentang sejarah, seni, arsitektur, hingga tata ruang.

Kehadiran akademisi internasional memperkaya perspektif, menjadikan Yogyakarta sebagai “laboratorium hidup” kebudayaan.

Tak hanya untuk akademisi, kegiatan ini juga mendekatkan tata ruang kepada masyarakat. Melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, tersedia layanan konsultasi pertanahan dan panduan perizinan.

Baca Juga: HB II Dibuang Jauh Hingga Penang-Malaysia, Tapi Tidak Pernah Benar-Benar Hilang.

“Kami ingin tata ruang terasa dekat dan dipahami masyarakat,” imbuh GKR Hayu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: GS Purwanto

Tags

Terkini

Ketika Kekuasaan Mulai Kehilangan Arah

Jumat, 17 April 2026 | 11:53 WIB

Yang Berkuasa Bukan yang Bertahta

Kamis, 16 April 2026 | 11:16 WIB

Kota Jogja, Air yang Diam-Diam Mengkhianati

Kamis, 16 April 2026 | 10:42 WIB

HB II Setelah Semuanya Diambil, Apa yang Tersisa?

Minggu, 12 April 2026 | 07:02 WIB
X