JOGJA.24JAMNEWS.COM -Serangan ke keraton itu tidak berhenti pada jatuhnya kekuasaan.Ada hal lain yang ikut hilang—dan mungkin justru lebih dalam maknanya.
Setelah penyerbuan di bawah kendali itu, Keraton Yogyakarta bukan hanya dikuasai.
Ia dibuka.
Ia dimasuki.
Lalu dikeluarkan isinya.
Benda-benda berharga diambil.
Simbol-simbol kekuasaan dipindahkan.
Baca Juga: Geger Sapehi ke Mahkamah Internasional, Menggugat Ingatan yang Dirampas
Dan yang paling jarang dibicarakan—ribuan naskah dan karya sastra Jawa turun tumurun, turut dibawa pergi.
Di titik ini, kita mulai melihat bahwa yang terjadi bukan sekadar operasi militer. Ini adalah penguasaan yang lebih luas.
Bukan hanya atas wilayah, tetapi juga atas ingatan.
Karena keraton bukan sekadar bangunan. Ia adalah pusat pengetahuan, tradisi, dan cara pandang. Apa yang tersimpan di dalamnya bukan hanya milik satu raja, tetapi bagian dari warisan yang lebih besar.
Baca Juga: SAE Pujon dan Jalan Sunyi Koperasi di Negeri yang Melupakannya
Dan ketika itu diambil, yang hilang bukan hanya benda.