Pendekatan ini bukan hanya efisien, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal dan rasa kepemilikan masyarakat terhadap program MBG.
Filosofi Lokal yang Hidup Kembali
Baca Juga: Geger Sapehi ke Mahkamah Internasional, Menggugat Ingatan yang Dirampas
Urban farming di Yogyakarta bukan sekadar tren modern. Ia sejalan dengan filosofi lama masyarakat Jawa, khususnya konsep “Hamemayu Hayuning Bawana”—merawat keindahan dan keseimbangan dunia.
Program seperti Lumbung Mataraman sudah lama mengajarkan kemandirian pangan berbasis komunitas. Ketika pohon seperti sawo kecik, tanjung, dan asam jawa ditanam di ruang kota, mereka tidak hanya memperindah, tetapi juga:
Baca Juga: SAE Pujon dan Jalan Sunyi Koperasi di Negeri yang Melupakannya
Menyaring polusi Menyediakan pangan Menjadi habitat bagi burung dan makhluk hidup lain
Kota pun berubah: bukan hanya tempat tinggal manusia, tetapi ekosistem yang saling menghidupi.
Tantangan Nyata di Lapangan
Tentu, jalan menuju kemandirian pangan ini tidak tanpa hambatan.
Masih ada anggapan bahwa pertanian itu “tidak estetis” untuk kota modern. Belum lagi persoalan air saat musim kemarau, serta kebiasaan program yang hanya semangat di awal lalu meredup.
Baca Juga: Unik! Komunitas Agus Gelar Syawalan, Semua Peserta Wajib Punya Unsur Nama “Agus”
Namun, harapan tetap besar. Dukungan kebijakan seperti Perpres No. 81 Tahun 2024, Dana Keistimewaan DIY, serta semangat komunitas KWT menjadi fondasi kuat untuk bergerak maju.
Menanam Masa Depan dari Halaman Sendiri
Menyukseskan Makan Bergizi Gratis di Yogyakarta tidak harus dimulai dari proyek besar. Justru, kekuatannya ada pada hal-hal kecil yang dilakukan bersama: menanam di pekarangan, merawat di lorong kampung, dan memanen untuk anak-anak sekolah.