Namun semua itu tidak selalu terdengar keras. Ia berjalan pelan. Nyaris tanpa suara.
Tetapi cukup untuk membuat perbedaan terasa.
Di titik inilah, tanpa banyak yang menyadari, sebuah perbandingan mulai muncul.
Bukan dalam bentuk perlawanan. Bukan pula dalam teriakan.Melainkan dalam ingatan. Tentang bagaimana kekuasaan pernah terasa berbeda. Tentang masa ketika arah masih jelas.
Dan tanpa perlu disebutkan, nama itu perlahan kembali hadir. Bukan sebagai penguasa. Tetapi sebagai bayangan.
Lalu pertanyaannya menjadi semakin sunyi: Ketika yang berkuasa tidak benar-benar memerintah… kepada siapa sebenarnya arah sebuah negeri ditentukan?
BERSAMBUNG