JOGJQ.24JAMNEWS.COM - Sementara berada jauh di Pengasingan, Yogyakarta tidak benar-benar tenang.
Secara lahir, semuanya tampak berjalan.
Tahta ada. Raja ada.
Pemerintahan tetap berlangsung. Namun jika dilihat lebih dekat, sesuatu terasa bergeser.
Di bawah Hamengku Buwana III, kekuasaan tidak sepenuhnya berada di tangan yang bertahta. Campur tangan kekuatan kolonial terlalu dalam—bukan hanya mengawasi, tetapi ikut menentukan arah.
Kepercayaan pun tidak sepenuhnya diberikan kepada keraton.
Sebagian justru mengalir ke Puro Pakualaman, yang posisinya semakin menguat dalam struktur baru yang sedang dibentuk. Di sisi lain, urusan sehari-hari pemerintahan lebih banyak berjalan melalui tangan Patih Danurejo IV.
Di titik ini, gambaran kekuasaan menjadi tidak lagi sederhana.
Yang bertahta tidak sepenuhnya berkuasa. Yang menjalankan tidak selalu mewakili. Dan yang menentukan… tidak selalu terlihat.
Ketika waktu bergerak cepat dan Raja mangkat, yang menggantikan masih sangat muda untuk naik ke tahta, keadaan semakin tidak membaik. Ia justru semakin kabur.
Kekuasaan terasa kian jauh dari pusatnya.
Dan dalam jarak itu, yang paling terasa bukan hanya perubahan struktur, tetapi juga perubahan arah.
Keputusan-keputusan yang diambil kerap kali justru berbeda dengan kehendak umum.
Tekanan semakin terasa—terutama bagi mereka yang berada di bawah. Pungutan menjadi bagian dari keseharian. Beban tidak lagi ringan.