Idul Fitri: Pertobatan yang Sering Terjebak Euforia
Sebaliknya, Idul Fitri mengajak manusia kembali kepada kesucian setelah proses pengendalian diri selama Ramadan.
Namun kesucian itu sering kali berhenti pada simbol. Kita menyaksikan paradoks—di satu sisi merayakan kemenangan spiritual, di sisi lain tetap terjebak dalam gaya hidup boros.
Baca Juga: Amanat Sultan: Satriya di Jalan Pengabdian Birokrasi
Rumah penuh hidangan, tetapi banyak yang terbuang. Silaturahmi terjadi, tetapi dibungkus kemewahan berlebihan. Wisata meningkat, tetapi meninggalkan jejak sampah.
Pertanyaannya sederhana namun tajam: apakah kita benar-benar berubah?