Data menunjukkan situasi yang tidak ringan. Indonesia menghasilkan sekitar 20–24 juta ton sampah setiap tahun, dengan dominasi sampah rumah tangga berupa sisa makanan dan plastik.
Pada momentum Lebaran, lonjakan konsumsi memperparah keadaan: kemasan sekali pakai meningkat, makanan berlebih terbuang, dan ruang-ruang publik dipenuhi sampah.
Baca Juga: Tadarus Malam di Rumah Peradaban Demak
Tradisi mudik yang melibatkan jutaan orang juga membawa konsekuensi ekologis—kemacetan panjang, peningkatan emisi, serta tekanan besar pada infrastruktur dan lingkungan.
Sungai-sungai kita menangis diam-diam. Lebih dari 64 persen sungai besar di Indonesia dalam kondisi tercemar berat, terutama oleh limbah domestik dan plastik.
Baca Juga: 20 th SBS dan 11 ribu Ember Paket Lebaran, Solo Solo Solo
Di hari-hari raya, volume sampah yang terbawa arus sungai justru meningkat tajam. Hutan kita pun terus menyusut, sementara krisis air bersih mengancam jutaan warga.
Nyepi: Diam yang Mengajari Bumi Bernapas
Dalam konteks krisis ekologis ini, Nyepi menemukan relevansinya yang paling dalam. Nyepi menghadirkan keheningan total—sebuah jeda radikal dari rutinitas dan konsumsi.
Dalam dua puluh empat jam Bali berhenti, sesuatu yang luar biasa terjadi: langit menjadi lebih biru, udara terasa lebih bersih, dan alam seakan mendapat kesempatan untuk bernapas.
Prinsip Catur Brata Penyepian—amati geni, amati karya, amati lelungan, amati lelanguan—adalah manifesto ekologis yang jauh mendahului zamannya.
Baca Juga: Ketika AI Berbalik Menjadi Algojo, Memburu Jejak Judol... Hmm....Bangga Indonesia.
Dalam keheningan itu, manusia diajak untuk melihat dirinya secara jujur: seberapa jauh ia telah hidup selaras dengan alam.
Selain itu, apakah jeda 24 jam saat Nyepi itu gaungnya bisa bergema di sepanjang tahun? Pertanyaan ini perlu sebagai pengingat bahwa bumi dan segala isinya perlu keberlanjutan.