• Sabtu, 18 April 2026

Bersiap Hadapi El Niño “Godzilla”: Sedia Payung Sadurunge Udan

Photo Author
Kianto Atmojo, Jogja 24 Jam
- Rabu, 8 April 2026 | 23:49 WIB
Ilustrasi: ai
Ilustrasi: ai

JOGJA.24JAMNEWS.COM - Fenomena El Niño kembali menjadi perhatian serius. Bahkan, istilah “El Niño Godzilla” mulai sering digunakan untuk menggambarkan potensi dampak yang lebih ekstrem.

Baca Juga: Syawalan Gunungkidul: Pesan Sultan Menjaga Akal di Era Digital

Meski bukan istilah ilmiah, sebutan ini mencerminkan satu kenyataan: ancaman kekeringan panjang yang bisa berdampak langsung pada air, pangan, dan kehidupan masyarakat.

Pemerintah melalui BMKG telah mengingatkan bahwa musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih awal, dengan puncak sekitar Agustus dan menjangkau sebagian besar wilayah Indonesia.

Baca Juga: Jejak Digital Ekonomi Jogja 2026

Peluang munculnya El Niño pada paruh kedua tahun ini juga berada pada tingkat sedang. Artinya, meskipun belum tentu ekstrem, risiko kekeringan tetap nyata dan perlu diantisipasi sejak sekarang.

Lalu, apa sebenarnya penyebab El Niño, bahkan yang disebut “Godzilla”? Secara sederhana, El Niño terjadi karena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Baca Juga: Ketika Makam Pahlawan Masuk Strategi Negara

Dalam kondisi normal, angin pasat membawa uap air ke Indonesia. Namun saat melemah, awan hujan berkurang dan kemarau menjadi lebih panjang. Fenomena ini merupakan bagian dari sistem alam global yang kompleks, sehingga tidak bisa dicegah. Yang bisa dilakukan manusia adalah beradaptasi dan mengurangi dampaknya.

Belajar dari masa lalu, dampak El Niño di Indonesia tidak bisa dianggap ringan. Pada 1997–1998, sekitar 9–10 juta hektare hutan dan lahan terbakar.

Pada 2015–2016, lebih dari 2 juta hektare lahan terdampak kebakaran, disertai kekeringan dan gangguan kesehatan masyarakat. Di wilayah DIY dan Jawa Tengah bagian selatan, krisis air bersih bahkan menjadi peristiwa berulang.

Baca Juga: Kodam Baru DIY, Menjaga Harmoni Istimewa

Namun dampak El Niño tidak hanya dirasakan di desa, tetapi juga di kota. Di wilayah perkotaan, suhu udara cenderung meningkat lebih tinggi karena efek beton dan minimnya ruang hijau.

Akibatnya, penggunaan pendingin ruangan (AC) dan kipas angin meningkat tajam. Hal ini berpotensi menyebabkan lonjakan konsumsi listrik, yang pada skala besar bisa membebani sistem energi dan meningkatkan biaya rumah tangga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Kianto Atmojo

Tags

Terkini

Kota Jogja, Air yang Diam-Diam Mengkhianati

Kamis, 16 April 2026 | 10:42 WIB

Paskah Tanpa Aksi: Iman yang Kehilangan Makna

Sabtu, 4 April 2026 | 07:47 WIB

Laudato Si’ di Gereja Pringgolayan

Minggu, 29 Maret 2026 | 12:35 WIB

Solusi Air dari Langit

Selasa, 24 Maret 2026 | 23:43 WIB

Hari Air Sedunia: Air Melimpah, Tapi Krisis?

Senin, 23 Maret 2026 | 00:37 WIB

Hutan untuk Kehidupan, Bukan Sekadar Kepentingan

Sabtu, 21 Maret 2026 | 01:14 WIB

GILA. Mashadi Tanam 4,5 Juta Mangrove

Minggu, 1 Maret 2026 | 16:41 WIB
X